Seperti biasa jam delapan pagi, Fina suda dijemput budenya. Karena saya bekerja, setiap hari dari jam delapan sampai jam empat sore ia berada di rumah budenya yang jaraknya hanya sekitar 200 m dari rumah kami. Walaupun saya bekerja di rumah, tetapi saya belum bisa mengasuh Fina sambil bekerja. Karena di usianya yang baru menginjak 20 bulan, tentunya ia belum mengerti tentang apa yang saya lakukan. Setiap saya berada di depan komputer, ia selalu ingin bersama saya dan ikut memencet keyoard dan mouse. Maka dari itu sementara ini ia di asuh oleh budenya.
Tak seperti biasanya, si kecil menjadi sulit berpisah dengan saya. Ia benar-benar tidak mau dibawa oleh budenya. Entah apa yang terjadi. Sempat berpikir apa mungkin anak ini mendapatkan perlakuan kasar dari budenya? Tapi saya segera menepis pemikiran itu karena saya tahu bahwa budenya sangat penyabar. Dan ketika berada di rumahnya pun Shafina menjadi cengeng, sering menangis menanyakan ayah dan ibunya. Padahal sebelumnya tidak seperti itu. Hal ini berlangsung tiga hari termasuk hari ini.
Penasaran dengan apa yang terjadi pada anak saya. Saya pun mencari informasi di internet dan muncullah istilah Separation Anxiety Disorder (SAD). SAD adalah kondisi dimana anak tidak mau atau sulit berpisah dengan orang tuanya. Keadaan anak yang sulit untuk berpisah dengan Mama atau
Papanya itu tidak mungkin dibiarkan begitu saja. Bahkan, mungkin ada
beberapa orang tua yang sudah ‘kebal’ dengan tangisan dan teriakan
anaknya, dan menganggap bahwa nanti kalau anak sudah lelah, dia akan diam sendiri. Padahal, ada cara untuk mengatasi SAD pada anak, lho. Nah, jika anak Mama mengalami SAD, cobalah beberapa tips di bawah ini.
1. Di dalam keluarga, setiap anggota keluarga harus menjalankan perannya sendiri. Misalnya, orang tua harus sadar bahwa mereka perlu membimbing anak untuk mandiri. Pengasuhan atau perhatian yang berlebihan seharusnya dikurangi.
2. Modelling behavior atau meniru pola perilaku. Anak adalah peniru ulung. Jika ia melihat Anda bersikap ramah ketika bertemu orang yang asing, ia tidak akan merasa takut dengan orang yang baru. Bagaimana pun, perilaku Anda menjadi acuan bagi anak.
3. Introspeksi hubungan dengan pasangan. Mungkin saja, hubungan Anda berdua bermasalah sehingga manifestasinya ke anak. Seharusnya, perhatian Anda bisa dibagi secara rata. Jadi, Anda tidak hanya fokus ke anak saja, tapi juga ke pasangan.
4. Mulai usia 3 tahun ke atas. Ajarkan anak melakukan kewajiban pribadinya, seperti tidur, mandi, atau makan sendiri. Biarkan si kecil belajar untuk mandiri di rumah.
Menurut psikiater asal AS, Anne Marie Albano, anak dengan SAD umumnya akan menolak sekolah. Ada beberapa solusinya, yakni:
1. Terapkan teknik flooding (langsung). Caranya adalah dengan menitipkan anak ke orang yang dipercaya. Misalnya, ketika di sekolah, titipkan anak pada gurunya. Jika ia menangis, biarkan guru yang menenangkannya. Proses ini bisa berlangsung selama kurang lebih seminggu sampai anak terbiasa.
2. Systematic desensitization. Secara bertahap, jauhi si kecil dengan pelan-pelan. Umumnya, proses ini berlangsung selama 2 - 3 bulan. Awalnya, Anda menunggu sambil duduk dekat dengannya. Esoknya duduklah lebih menjauh dari posisi sebelumnya. Terus lakukan sampai Anda benar-benar menghilang.
1. Di dalam keluarga, setiap anggota keluarga harus menjalankan perannya sendiri. Misalnya, orang tua harus sadar bahwa mereka perlu membimbing anak untuk mandiri. Pengasuhan atau perhatian yang berlebihan seharusnya dikurangi.
2. Modelling behavior atau meniru pola perilaku. Anak adalah peniru ulung. Jika ia melihat Anda bersikap ramah ketika bertemu orang yang asing, ia tidak akan merasa takut dengan orang yang baru. Bagaimana pun, perilaku Anda menjadi acuan bagi anak.
3. Introspeksi hubungan dengan pasangan. Mungkin saja, hubungan Anda berdua bermasalah sehingga manifestasinya ke anak. Seharusnya, perhatian Anda bisa dibagi secara rata. Jadi, Anda tidak hanya fokus ke anak saja, tapi juga ke pasangan.
4. Mulai usia 3 tahun ke atas. Ajarkan anak melakukan kewajiban pribadinya, seperti tidur, mandi, atau makan sendiri. Biarkan si kecil belajar untuk mandiri di rumah.
Menurut psikiater asal AS, Anne Marie Albano, anak dengan SAD umumnya akan menolak sekolah. Ada beberapa solusinya, yakni:
1. Terapkan teknik flooding (langsung). Caranya adalah dengan menitipkan anak ke orang yang dipercaya. Misalnya, ketika di sekolah, titipkan anak pada gurunya. Jika ia menangis, biarkan guru yang menenangkannya. Proses ini bisa berlangsung selama kurang lebih seminggu sampai anak terbiasa.
2. Systematic desensitization. Secara bertahap, jauhi si kecil dengan pelan-pelan. Umumnya, proses ini berlangsung selama 2 - 3 bulan. Awalnya, Anda menunggu sambil duduk dekat dengannya. Esoknya duduklah lebih menjauh dari posisi sebelumnya. Terus lakukan sampai Anda benar-benar menghilang.
Sumber : parenting.co.id