Rabu, 20 April 2011

Adat Istiadat Rasulan

Sudah 5 tahun ini saya tidak mengikuti RASULAN, acara rutin tahunan di kampung kami. Desa Ngunut, Kecatamatan Playen, Kabupaten Gunungkidul, Yogyakarta. Sebuah desa kecil di selatan kota Yogyakarta. Tidak ada hal istimewa di kampung kami, tidak ada lokasi wisata yang bisa dikunjungi hanya kampung biasa dengan rutinitas warganya yang mayoritas adalah petani. Petani yang mengandalkan musim penghujan saja.
Lalu Rasulan itu apa?

Rasulan atau disebut Bersih Desa. Hampir semua desa di Kabupaten Gunungkidul dan beberapa desa di kabupaten lain selalu mengadakan hajatan besar ini setiap tahunnya. Hari dan tanggal pelaksanaan acara ini berbeda untuk masing-masing kampung, kalaupun terjadi bersama itu kebetulan saja.

Jaman dulu rasulan selalu diidentikkan dengan hal-hal bertema klenik atau mistik. Misalnya saja salah satu agenda kegiatan rasulan adalah membuat sajen untuk pohon beringin besar di pinggiran desa dan kegiatan-kegiatan serupa. Tetapi seiring berjalannya waktu, rasulan yang diadakan sekarang lebih kepada pelestarian adat istiadat dan tradisi yang ada.
Sesajen

Masing-masing desa mempunyai cara tersendiri untuk merayakan rasulan ini. Misalnya dengan mengadakan pertandingan sepak bola antar kampung, bole voli, pagelaran wayang, Jathilan dan lain sebagainya. 
Sepak bola antar kampung

Dan uniknya hampir setiap kepala keluarga di kampung itu akan masak besar dan istimewa, seperti hajatan kecil-kecilan. Karena pada siang hari H rasulan itu, warga akan berkumpul di balai desa atau tempat yang telag ditentukan misalnya rumag pak Dukuh (kepala pedukuhan/sub area sebuah desa). Dari rumah masing-masing warga membawa makanan yang terdiri dari nasi, beserta lauk pauknya. Biasanya di bawa dengan Tenggok (wadah dari bahan bambu). 
Tenggok bambu

Selanjutnya akan di adakan acara di tempat itu dan diakhiri dengan berdoa bersama. Uniknya lagi, makanan yang di bawa warga dari rumah tersebut di kumpulkan menjadi satu dan kemudian di bagi-bagikan kepada yang datang menggunakan wadah-wadah dari daun kelapa. Jika dilihat sekilas, makanan yang dibagikan itu mungkin akan terlihat sedikit aneh, tapi jangan salah justru itulah yang menarik dan terasa lebih nikmat, nggak percaya, buktikan sendiri.
wadah dari daun kelapa sumber : http://jarwadi.wordpress.com

Salah satu tradisi rasulan yang sudah melekat adalah adanya kerabat keluarga atau teman yang datang kerumah warga untuk sekedar silaturahmi dan makan-makan. Mungkin hal ini dipandang akan merepotkan tuan rumah. memang benar hal tersebut akan sedikit merepotkan, tetapi hal ini sudah menjadi tradisi yang sulit untuk dihilangkan. Karena berkumpul dengan family jauh itu sangat menyenangkan tentunya.

Seperti di katakan sebelumnya bahwa masing-masing desa atau kampung mempunyai cara tersendiri untuk merayakannya. Salah satu contohnya adalah desa Ngunut. Euforia rasulan tidak hanya terjadi satu hari itu saja akan tetapi sudah terasa kurang lebih 1 minggu sebelumnya. Dimana masyarakat mengadakan berbagai macam kegiatan seperti pertandingan sepak bola, bersih-bersih masal, pengajian akbar, dan kegiatan-kegiatan lainnya yang seolah-olah menjadi kegiatan pembuka untuk menuju ke acara / kegiatan inti. Lalu yang tidak pernah absen dari perhelatan di desa ini adalah Pagelaran wayang kulit semalam suntuk di balai desa pada malam hari pada hari H-nya. Menurut beberapa warga mereka menyatakan bahwa kurang afdol rasanya kalau rasulan tidak ada wayang kulit. Dan juga ada acara kirap yang dilakukan oleh para prajurit kraton Yogyakarta yang sengaja di undang, diikuti para staf desa dari Lurah sampai RT beserta para tokoh masyarakat lengkap dengan pakaian adat jawa.

Perhelatan besar ini tentu memakan biaya yang tidak sedikit. Lalu dari mana biaya itu diperoleh? 
Biaya untuk acara tahunan ini diperoleh dari iuran seluruh kepala keluarga di desa, kecuali para janda dan warga yang dianggap tidak mampu. Iuran ini distentukan bersama pada saat rapat warga sehingga diharapkan tidak memberatkan warganya. Disamping itu, biasanya panitia acara mencari sponsor sehingga selain dapat memeriahkan acara juga dapat membantu pembiayaan acara tersebut.

Jika ingin mengikuti acara tersebut, memang agak susah karena tidak ada patokan tanggal pasti kapan acara akan dilaksanakan di masing-masing desa. Tanggal pelaksanaan ditentukan oleh rapat warga berdasarkan perhitungan jawa dan hari baik yang menjadi keyakinan bersama.
Tahun ini di desa Ngunut rasulan di laksanakan pada hari Senin, 20 Juni 2011. Bagi yang mau menyaksikan acara tersebut silakan saja, hari minggu-nya biasanya sudah ramai.

Sayangnya tidak ada gambar otentik perhelatan gambar tersebut. Mungkin setelah tanggal 20 Juni baru saya update gambarnya. Atau mungkin bagi teman-teman di Gunungkidul yang punya gambar agenda rasulan dapat dikirim ke email saya ekadu2003@yahoo.com. Tentunya fotonya akan ditampilkan sebagai referensi kemeriahan acara tersebut.


2 komentar:

  1. aku juga kangen ka, sama rasulan aku dah 12 tahun gak menikmati rasulan....

    BalasHapus
  2. wah,,tambah parah, tapi tahun ini insyaAllah aku mengikuti,,,

    BalasHapus