Kamis, 10 Oktober 2013

Sharing Pengalaman Kehamilan, Melahirkan dan Menjadi Ibu Baru 2

Alhamdulillah akhirnya bisa posting lagi di blog ini. Setelah sekian lama. Dari Sharing Pengalaman Kehamilan, Melahirkan dan Menjadi Ibu Baru 1 ke posting yang kedua ini jaraknya 4 bulan. Hem..benar-benar blogger yang nggak update. Hehehe... Bukannya lebih baik terlambat dari pada tidak sama sekali (Jangan ditiru).
Ok langsung saja, lanjut ke pengalaman kehamilan saya yang pertama. Bukan main bahagianya ketika ada manusia yang hidup di dalam tubuh saya. Untuk trimester 1 (3 bulan pertama), periksa kehamilan dilakukan satu bulan sekali. Menunggu waktu untuk periksa sampai bulan depan itu rasanya lama sekali. Ingin segera bulan depan rasanya dan mengetahui kabar dedek bayi di dalam sana.
Seperti wanita pada umumnya saya juga mengalami ngidam, muntah, mual dan lain-lain. Saya tiba-tiba kepingin makan steak, bakso malang, siomay, dan nasi padang (ada ceritanya di bawah).
Periksa kedua pas menginjak kehamilan 9 minggu, Kebetulan aku periksa di bidan yang mempunyai reputasi bagus. Di ruang periksa, suster memakaikan gel di perut saya bagian bawah. Mau di apain nih, kata saya dalam hati. Tak lama kemudian bidan menempelkan alat yang akhirnya saya tahu itu namanya fetal dopler (alat untuk mendengarkan detak jantung janin). Ditekan-tekan dan yang terdengar hanya bunyi kresek kresek, saya tidak tahu maksudnya apa, dan yang dimaksud dengan detak jantung itu bunyi yang mana. Setelah agak lama memutar-mutar alat itu di atas perut saya, bidan pun berkata "Janinnya masih  terlalu di bawah, mungkin karena masih 9 minggu jadi belum terdengar detak jantungnya.". Mendengar pernyataan bidan tersebut saya tidak banyak komentar tapi sesampainya di rumah, muncullah berbagai pertanyaan, apakah dia baik-baik saja di dalam? adakah sesuatu yang membahayakan?
Untuk mengusir penasaran, saya pun mencari informasi di mbah google mengenai berapa minggu detak jantung janin bisa di dengar. Banyak referensi mengatakan bahwa usia 9 minggu bahkan 6 minggu dengan USG bisa di dengar detak jantung janin. Banyak juga calon ibu yang memposting pengalaman hamil dan  mengalami janin tidak berkembang, gejalanya yaitu dengan tidak adanya detak jantung janin. Saya mulai galau membaca banyak artikel ataupun thread  kesehatan yang rata-rata menyatakan seperti itu. Lalu saya berpikir, "itu kan kalau USG kalau pake fetal dopler mungkin beda, secara tingkat kecanggihan kedua alat itu juga berbeda." Menunggu sebulan itu sangat lama untuk segera periksa berikutnya dan mendengar detak jantung janin. Bahkan saya sempat merengek kepada suami untuk USG. Tapi suami enggan mengantar saya USG, dia hanya berkata "berpikir positif aja, dan percaya sama Allah". Saya pun menjalani hari-hari menuju periksa selanjutnya dengan penuh harap-harap cemas.
Akhirnya jadwal periksa bulan selanjutnya telah tiba, senang sekali rasanya akan segera mengetahui keadaan malaikat kecil kami di dalam sana. Dan alhamdulillah pemeriksaan ke tiga tepat usia kandungan 13 minggu, kami dapat mendengar detak jantung janin saya (bunyinya sama sekali tidak mirip dengan detak jantung kalau menurut saya, tetapi lebih mirip bunyi lonceng). Kami sangat bahagia karenanya.
Saya menjalani hari-hari berikutnya dengan penuh suka cita, sampai pada suatu hari perut saya mulas dan sakit. Saya sangat khawatir. Suami langsung saya telepon, dan dia pun dengan cepat sampai di rumah. Kami pun menuju ke bidan tempat periksa biasanya. Tidak seperti biasa tempat praktek bidan itu penuh dengan ibu-ibu hamil dengan segala ukuran dan bentuk. hehehe... Ternyata hari itu bertepatan dengan jadwal USG dimana bidan mendatangkan dokter dari rumah sakit setiap satu bulan sekali. Saya pun enggan periksa disitu karena terlihat semua orang sedang sibuk dengan urusan USG dan ada yang sedang melahirkan pula. Akhirnya saya dan suami memutuskan untuk menunggu hingga selesai, suami saya mengajak saya makan terlebih dulu  . Seperti biasa dia bertanya "mau makan apa?" dan entah kenapa hari itu saya sangat kepingin makan nasi padang. Ironisnya setelah makan nasi padang, sakit perut saya hilang dan langsung sehat kembali. Periksa ke bidan pun tidak ada masalah, janin juga sehat dilihat dari detak jantungnya. 
Titik rawan sampai empat bulan pun telah saya lalui, janin juga berkembang dengan baik. Begitu pula dengan trimester kedua yang saya habiskan di kampung halaman saya di jogja. 
Masalah justru timbul pada trimester terakhir (7, 8, 9 bulan). Pada waktu itu kepala janin tidak pernah benar-benar berada di bawah. selalu berubah posisi setiap minggu. Mislanya minggu pertama bulan oktober kepala janin di bawah, minggu depan sudah berubah lagi di atas, dan begitu seterusnya sampai pada saatnya melahirkan. Padahal terapi sujud sudah saya lakukan setiap sehabis sholat. Jalan-jalan pagi dan aktifitas lain di rumah. Bahkan ada dokter kandungan yang mengharuskan saya memakai stagen (sabuk panjang) ketika kepala janin sudah di bawah agar tidak berubah posisi lagi. Tapi tetap saja tidak berhasil.
Pada minggu ke 38 saya kembali USG dan posisi sudah kepala, tetapi belum masuk panggul. Bidan menyarankan untuk terapi jongkok berdiri. Terapi ini rasanya cukup menyiksa. Jongkok berdiri tanpa beban saja rasanya sangat capek, apalagi ditambah beban di perut. 
Prediksi kelahiran tanggal 28 Desember 2012, di hari itu tidak ada tanda-tanda akan melahirkan. Saya hanya berusaha memantau gerakan janin. Jika dia masih bergerak itu tandanya baik-baik saja, pikiran saya. Akhirnya tanggal 29 Desember tepat pukul 00.00 keluar darah melalui jalan lahir, mengalir melewati kaki. Saya pun membangunkan orangtua saya (Suami dalam perjalanan Jakarta - Joga). Saya diantar oleh orangtua ke bidan. pemeriksaan dalam pun dilakukan dan katanya memang saya akan melahirkan tetapi masih lama, ditunggu dirumah saja. Kami pun kembali ke rumah, saya juga merasakan perut saya sakit sekali, sampai saya tidak bisa tidur. 
Akhirnya pagi datang, rasa sakit pun hilang. Ya, memang seperti itu kejadiannya, saya hanya meraskan sakit ketika malam. Kalau siang, saya tidak merasakan apa-apa. Begitu terus sampai akhirnya saya memutuskan untuk operasi sesar pada tanggal 31 Desember 2012. 
Kenapa Sesar?
Karena sampai tanggal 31 tidak juga ada pembukaan.
Kenapa tidak memakai prosedur induksi ?
Saya tidak mau. Karena jika induksi gagal ujung-ujungnya juga sesar. Dan saya tidak tahu rumah sakit dimana saya di rawat itu masih menggunakan prosedur vacuum/forceb tidak. Terus terang saya tidak mau memakai kedua cara tersebut. Banyak bukti bahwa vacuum yang tidak lancar berakibat fatal terhadap perkembangan anak nantinya.
Dan pada jam 02.40 lahirlah putri kami tercinta Shafina Sriardhani yang pada hari ini berumur 9 bulan 11 hari.
O ya,,,Selama hamil saya mudah sekali lapar. Karena itulah selama kehamilan berat badan saya naik 25kg awal hamil 56kg sampai 81kg pada saat terakhir sebelum melahirkan. Perlu diketahui kenaikan berat badan ibu hamil yang ideal maksimal 20kg, saya termasuk over.
Hah...itulah sedikit cerita saya ketika mengandung Fina (nama panggilan ana kami) penuh suka dan duka, tapi sukanya sangat banyak lho..hehe..
Kehamilan adalah sesuatu yang sangat di harapkan oleh pasangan yang menikah. Lengkap pula julukan "wanita" ketika seorang wanita telah mengandung dan melahirkan. Berusaha dan berdoa, setelah satu tahun dari rencana tapi belum juga ada hasil, sebaiknya melakukan konsultasi dengan dokter atau tindakan herbal lainnya. Tujuannya agar kita tahu masalah dan penyebabnya apa, sehingga tidak menjadi fatal. Penghambat bisa dari kedua pihak, istri dan suami. Bukan kekurangan istri saja jika anak yang diharapkan tak kunjung datang.
Selama hamil rajinlan mengonsumsi vitamin penambah darah minimal 90 butir, makan makanan bergizi, minum susu sangat dianjurkan, dan periksalah ke bidan atau rumah sakit terdekat. Jika kita sebagai ibu hamil merasakan ada yang salah dengan kehamilan kita, segera bicarakan dengan suami dan jika perlu langsung periksa untuk mengetahui masalahnya.
Usahakan untuk tidak stress, karena stress akan berdampak buruk pada janin. 
Hindari mengonsumsi obat. Sekalipun dokter mengatakan obat itu aman untuk ibu hamil, sebaiknya jangan dikonsumsi selama penyakit yang kita derita bisa di obati dengan cara alami.
Oke,,,mudah-mudahan bermanfaat ya cerita dari ini..
Salam...

Selasa, 11 Juni 2013

Sharing Pengalaman Kehamilan, Melahirkan dan Menjadi Ibu Baru 1

Pernikahan belum lengkap tanpa kehadiran buah hati. Anak menjadi sebuah bukti bahwa sepasang suami istri sehat. Dalam post kali ini saya akan membagikan pengalaman saya selama hamil, melahirkan dan menjadi ibu baru tentunya.
Tanggal 16 November 2011 saya menikah dengan seorang pria pilihan saya sendiri dan telah disetujui orang tua tentunya. Pada saat menikah saya sedang datang bulan, kata orang-orang kalau menikah pas datang bulan biasanya langsung hamil. Padahal tidak demikian, buktinya saya tidak langsung hamil walaupun menikah pas datang bulan. Setelah menikah Allah tidak segera mempercayai kami untuk segera mempunyai momongan. 1 bulan, 2 bulan, 3 bulan dan akhirnya 4 bulan. Sikecil tak juga kunjung menghuni rahim ini. Sampai kadang merasa kesal ketika mendapat pertanyaan "Sudah isi belum ?". Atau ketika suami mengajak berkunjung ke rumah saudara atau arisan keluarga. Karena sudah pasti pertanyaan itu akan dilontarkan kepada saya. 
Bulan kelima pernikahan kami, saya terlambat datang bulan. Tapi hal itu biasa terjadi kepada saya, datang bulan sering terlambat bahkan sampai 1.5 bulan. Jadi saya tidak merasa aneh atau surprise dengan hal itu. Bagi saya terlambat datang bulan bukanlah pertanda kehamilan. Tapi suami saya justru yang menyadari kalau saya hamil. Dia merasa ada perubahan dengan pola makan saya. Memang waktu itu saya lebih sering merasa lapar. Dalam sehari bisa makan 5 kali. Sebenarnya saya sudah pasrah dengan keadaan, mulai berpikir santai dan tidak terlalu terpusat pada momongan. Tapi justri suami saya yang penasaran. Dan malam itu juga sepulang kerja dia membelikan test pack 3 buah. Ketika suami sedang keluar saya mencobanya... dan ternyata NEGATIF. Lagi-lagi harus dibuat kecewa oleh kenyatana pahit ini. Tapi ya sudahlah mungkin Allah belum berkehendak. Ingin menangis lagi sebenarnya, tapi sudahlah, air mata tidak akan merubah kenyataan. Saya berusaha menerima kepahitan ini dan tersenyum kembali.
Tak lama berselang suami kembali kerumah dan menanyakan apakah saya sudah melakukan tes atau belum dan menanyakan hasilnya. Dia terlihat begitu yakin dan antusias untuk segera mengetahui hasilnya. Dan saya pun bilang "NEGATIF". Ada sedikit kekecewaan di wajahnya. Saya sangat mengerti sebenarnya dia juga sangat mendambakan momongan tapi dia selalu menguatkan saya dengan mengatakan "Belum di percaya sama Allah..tenang saja.". Lalu suami menyuruh mengambil test pack yang saya pakai tadi. Ups!!! tapi ada perbedaan yang terjadi pada test pack tersebut.Ada dua buah garis merah tapi yang satu sangat tipis. Dalam hati sedikit berbunga melihatnya. Tapi saya tidak mau terlalu kecewa nantinya jika hasilnya negatif, saya setting perasaan untuk menghadapinya dengan biasa. Suami juga merasa senang tetapi masih belum 100 % karena belum yakin. 
Keesokan harinya aku kerumah tante dan aku bawa ketiga test pack yang sudah terpakai itu. Ketiganya dengan garis merah yang samar. Tante berkata, agar say amenunggu beberapa hari lagi karena garis merah masih samar. Dalam hati saya sedikit kecewa, karena saya mengharapkan jawaban yang positif dari tante saya. Sore hari sepulang bekerja Suami membelikan test pack yang lebih mahal merk "Sensitif" yang sering ada di iklan TV. Karena produk ini mengklaim bisa memberikan hasil 7 hari setelah berhubungan. Dengan penuh harap saya mencoba lagi dan hasilnya sama garis merah masih samar tapi sedikit lebih jelas.
Melihat itu suami langsung mengajak periksa ke bidan dengan membawa hasil tes. Dan Alhamdulillah bidan itu mengatakan bahwa saya positif hamil 5 minggu. Terimakasih Ya Allah. Tak dapat dilukiskan lagi perasaan kami saat itu. Sebelumnya saya dan suami sempat akan memeriksakan diri apakah ada masalah dengan organ reproduksi atau tidak, atau hanya faktor kelelahan saja. Belum sempat menemui dokter Obgyn Allah telah mengabulkan doa kami. Jadi bagi para pasangan muda yang belum di karuanian momongan jangan menyerah, terus berusaha dan berdoa. Tidak cukup sampai disini perjuangan kami, masih ada 9 bulan 10 hari menjaga si kecil di dalam kandungan. Sharing di post berikutnya ya.