Terakhir posting bulan Agustus 2014, wow lama banget yah. Nggak apa-apa lah ya..jarang-jarang juga yang penting ada update. Mudah-mudahnya kedepannya bisa update blog daily. Amin..
Kali ini saya akan membahas mengenai "Dilema Ibu Pekerja". Perlu digaris bawahi bahwa di dalam tulisan ini tidak akan membahas pilihan mana yang paling benar antara "Ibu" dan "Pekerja". Justru saya berharap tulisan ini mampu memotifasi ibu-ibu yang memutuskan untuk full di rumah mengasuh anak dan untuk ibu-ibu yang memutuskan untuk tetap berpenghasilan.
Tulisan ini diilhami oleh pengalaman pribadi saya sebagai ibu dan seorang karyawan. Ok langsung saja ya..
Anak mempunyai masa emas pertumbuhan. Dimana sebaiknya pada usia itu ibulah yang mendamping perkembangannya. Tapi banyak anak-anak usia balita yang di titipkan untuk di asuh orang lain. Baik oleh baby sister, asisten rumah tangga atau keluarga karena si ibu harus bekerja. Alasan bekerja pun beragam.
- Karir di perusahaan tempatnya bekerja sedang bagus
- Sayang dengan gaji yang sudah besar
- Adanya tanggungan (ex. cicilan rumah) yang harus di bayar dan kalau mengandalkan gaji suami menurut matematika manusia kurang.
- Single parent
- Dan lain-lain
Alasan untuk tetap bekerja pun tidak melulu datangnya dari keegoisan ibu yang tidak mau meninggalkan pekerjaannya karena masalah karir. Seperti pada alasan nomor 3 dan 4 di atas. Dimana si ibu ini sebenarnya ingin mengurus anak di rumah tetapi karena ada faktor lain yang mengharuskannya untuk tetap berkarir. Lalu dengan ibu yang memutuskan untuk tetap berkarir karena alasan lain, bisa jadi karena dia ingin menjamin masa depan anaknya lebih baik. Menjamin kesejahteraan dan pendidikannya.
Apapun alasan ibu bekerja itu adalah untuk keluarga dan anak, saya pikir tidak ada masalah. Jangan sampai memutuskan untuk tetap bekerja karena alasan seperti merasa bosan di rumah dengan lingkup yang itu-itu saja, atau tidak bisa lagi hang out bersama teman-teman. Perlu diperhatikan juga dengan siapa anak kita dititipkan. Kalau yang mengasuh adalah neneknya tentu itu lebih baik. Lain dengan jika anak dititipkan kepada orang yang tidak kita kenal sebelumnya, seperti asisten rumah tangga atau baby sister. Sebagai ibu harus jeli dalam memilih pengasuh anak. Jangan sampai anak-anak ini justru menjadi korban ketidakprofesionalan mereka.
Kemudian yang berikutnya adalah ibu yang meninggalkan karirnya demi mengasuh anak-anaknya. Banyak sekali ibu yang menempuh langkah ini dan salut buat mereka (agak iri dengan mereka :( hiks). Sekali lagi kondisi setiap keluarga berbeda-beda. Jika memang pemasukan dari suami cukup untuk memenuhi kebutuhan ya tidak ada salahnya jika istri/ibu memutuskan untuk fokus terhadap anak. Saya mengikuti sebuah forum yang isinya ibu-ibu semua. Dari ibu-ibu muda sampai yang sudah punya cucu juga ada. Mayoritas dari penghuni forum ini adalah ibu-ibu yang memutuskan untuk tidak berkarir, sehingga dengan adanya forum ini mereka saling bisa berbagi dan menguatkan satu sama lain. Kadang sebagai wanita karir yang tiba-tiba harus berada di rumah ada rasa bosan, merasa tidak berguna, sayang dengan ijasah dan kuliahnya yang bertahun-tahun itu.
Pernah suatu kali saya memposting kegalauan saya mengenai masalah ini. Banyak sekali masukan yang saya dapatkan. Berbagai macam latar belakang ibu-ibu yang memberikan masukan. Bahkan ada seorang Dokter yang rela melepas jas putihnya demi mengasuh anaknya yang memang memerlukan perawatan khusus. Yang lain seorang PNS di kota bandung yang siap berhenti pertengahan 2015 ini. Dosen dengan pendidikan S2 yang dengan ikhlas melepas karirnya di universitas. Dan banyak ibu-ibu dengan karir yang cemerlang tetapi lebih memilih keluarga. Inspiratif sekali.
"Meskipun kita berhenti bekerja, Allah tidak akan mengurangi rejeki keluarga kita."
Kalimat inilah yang memotifasi ibu-ibu segera berhenti bekerja. Tetapi tidak semua orang dengan mudah menerima kalimat ini, termasuk saya.
Lalu berikutnya ada ibu-ibu yang tetap berpenghasilan meski tidak keluar rumah. Ada yang ikut MLM produk kecantikan, freelance, membuka usaha kecil-kecilan di rumah dan lain-lain. Yang terakhir ini sebenarnya bisa menjadi solusi permasalahan ini. Tetapi tetap kembali kepada individu masing-masing. Dan apapun pilihannya asal itu baik untuk keluarga terutama anak, why not?
Sekian tulisan ini, lebih seperti pendapat dan curhatan sih.. tapi nggak apa-apa lah..
Ingin mencopy percakapan di forum ibu-ibu yang saya ikuti, tapi sudah tertimpa dengan posting yang lain..kalaupun ada menyusul..
Mudah-mudahan Allah senantiasa melimpahkan anugrahnya kepada keluarga kita. Amin..
Tidak ada komentar:
Posting Komentar