Rabu, 06 April 2016

Rubella Shafina


­­Seminggu yang lalu anak kami mengalami panas selama 3 hari. Suhu tubuhnya akan normal selama reaksi obat turun panas masih bekerja. Selang beberapa jam setelah reaksi obat hilang, suhu tubuhnya akan naik perlahan-lahan. Dan ketika dia mulai demam, kami pun memberinya obat turun panas lagi. Meskipun suhu tubuhnya tinggi, anak kami tetap ceria dan tidak lemah kondisi fisiknya. Begitu seterusnya hingga pada hari ke 3, kami menemukan bercak kemerahan di sebagian wajah dan dadanya. Campak kah? Tetapi waktu menjelang usia satu tahun dia sudah terkena campak hingga merata ke seluruh badan.

Karena tidak mau mengambil resiko, maka kami pun langsung membuat janji dengan pada malam harinya. Kami mengutarakan keluhan dan gejala yang di alami. Setelah memerika anak kami, SPA mengatakan bahwa anak kami terkena Rubella/campak Jerman. Dokter hanya mengatakan bahwa campak jerman ini berbeda dengan campak yang dialami sebelumnya. Berikut ini adalah beberapa perbedaan campak dengan rubella/campak jerman.

  1. Campak disebabkan paramyxovirus, sedangkan campak jerman/rubella disebabkan virus Rubella RNA (dr Meta Hanindita, SpA dari Rumah Sakit Dr Soetomo Surabaya-detikhealth).
  2.  Rash/ruam pada campak jerman mirip dengan rash pada campak, tapi bisa dibedakan dengan gejala lain
  3.  Panas pada campak biasanya panas tinggi, yakni dengan temperatur lebih dari 38,5 derajat Celcius. Sedangkan pada campak jerman demamnya lebih ringan, di mana kurang dari 38,5 derajat Celcius. Campak jerman bisa berbahaya jika dialami ibu hamil karena dapat menyebabkan kematian bayi dalam kandungan atau keguguran
  4. Rash pada campak akan menghitam lalu mengelupas sendiri setalah 1-2 minggu.
  5. Untuk mencegah penyakit campak, maka anak bisa mendapatkan vaksin campak. Sementara untuk mencegah campak jerman atu rubella adalah dengan imunisasi Measles, Mumps and Rubella(MMR).
  6. Rubella mudah menular.

Rubella juga di kenal dengan campak 3 hari. Menurut pendapat pribadi, mungkin karena ruamnya akan hilang dalam 3 hari. Karena dari pengamatan kami, campak yang dialami anak kami sekarang jauh lebih ringan dibandingkan campak yang sebelumnya. Karena yang sebelumnya disertai beberapa gejala lain seperti batuk. Dan anak tidak mau makan sama sekali hingga kondisinya lemah, tetapi karena dia masih mau minum susu, dokter tidak menyarakan rawat inap.



Tidak sampai disitu, dokter merekomendasikan untuk tes darah. Sebuhungan dengan merebaknya penyakit DBD, dokter khawatir anak kami terjangkit DBD juga, mengingat ada riwayat panas 3 hari. Esok paginya kami kembali ke rumah sakit dengan agenda tes darah di laboratorium. Pendaftaran, pengambilan sampel darah sampai pengambilan hasil memakan waktu kira-kira 2.5 jam. Dan hasilnya trombosit di bawah rata-rata 139 dengan nilai rujukan 150-440. Dokter menyarankan untuk di rawat. Tetapi kami menolak karena kondisi anak kami masih sangat aktif dan tidak lemah. Kami pun menandatangani surat penolakan rawat inap dan membawa si kecil kembali ke rumah. Bukan tanpa usaha kami menolak rawat inap. Kami berikan dia sari kurma, jus jambu biji merah, banyak air putih, dan madu.

Jika dalam waktu 2 hari anak kami menunjukkan gejala kondisi fisik yang lemah, maka kami harus segera membawanya ke rumah sakit untuk rawat inap. Dan jika tidak, 2 hari kemudian kami harus kembali ke rumah sakit untuk mengambil sampel darah lagi. Meyakinkan trombositnya kembali normal.

Dalam waktu dua hari tersebut, kami lihat anak kami masih sangat aktif dan tidak menunjukkan gejala kondisi fisik melemah. Dan sejak periksa pertama suhu tubuhnya normal. Di waktu yang di jadwalkan untuk pengambilan sampel darah yang kedua, kami memutuskan untuk tidak kembali ke rumah sakit. Karena kami melihat kondisinya sudah semakin membaik dan semakin sehat.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar