Seminggu yang lalu anak kami
mengalami panas selama 3 hari. Suhu tubuhnya akan normal selama reaksi obat
turun panas masih bekerja. Selang beberapa jam setelah reaksi obat hilang, suhu
tubuhnya akan naik perlahan-lahan. Dan ketika dia mulai demam, kami pun
memberinya obat turun panas lagi. Meskipun suhu tubuhnya tinggi, anak kami
tetap ceria dan tidak lemah kondisi fisiknya. Begitu seterusnya hingga pada
hari ke 3, kami menemukan bercak kemerahan di sebagian wajah dan dadanya. Campak
kah? Tetapi waktu menjelang usia satu tahun dia sudah terkena campak hingga
merata ke seluruh badan.
Karena tidak mau mengambil
resiko, maka kami pun langsung membuat janji dengan pada malam harinya. Kami mengutarakan
keluhan dan gejala yang di alami. Setelah memerika anak kami, SPA mengatakan
bahwa anak kami terkena Rubella/campak Jerman. Dokter hanya mengatakan bahwa
campak jerman ini berbeda dengan campak yang dialami sebelumnya. Berikut ini
adalah beberapa perbedaan campak dengan rubella/campak jerman.
- Campak disebabkan paramyxovirus, sedangkan campak jerman/rubella disebabkan virus Rubella RNA (dr Meta Hanindita, SpA dari Rumah Sakit Dr Soetomo Surabaya-detikhealth).
- Rash/ruam pada campak jerman mirip dengan rash pada campak, tapi bisa dibedakan dengan gejala lain
- Panas pada campak biasanya panas tinggi, yakni dengan temperatur lebih dari 38,5 derajat Celcius. Sedangkan pada campak jerman demamnya lebih ringan, di mana kurang dari 38,5 derajat Celcius. Campak jerman bisa berbahaya jika dialami ibu hamil karena dapat menyebabkan kematian bayi dalam kandungan atau keguguran
- Rash pada campak akan menghitam lalu mengelupas sendiri setalah 1-2 minggu.
- Untuk mencegah penyakit campak, maka anak bisa mendapatkan vaksin campak. Sementara untuk mencegah campak jerman atu rubella adalah dengan imunisasi Measles, Mumps and Rubella(MMR).
- Rubella mudah menular.
Rubella juga di kenal dengan
campak 3 hari. Menurut pendapat pribadi, mungkin karena ruamnya akan hilang
dalam 3 hari. Karena dari pengamatan kami, campak yang dialami anak kami
sekarang jauh lebih ringan dibandingkan campak yang sebelumnya. Karena yang
sebelumnya disertai beberapa gejala lain seperti batuk. Dan anak tidak mau
makan sama sekali hingga kondisinya lemah, tetapi karena dia masih mau minum
susu, dokter tidak menyarakan rawat inap.
Tidak sampai disitu, dokter
merekomendasikan untuk tes darah. Sebuhungan dengan merebaknya penyakit DBD,
dokter khawatir anak kami terjangkit DBD juga, mengingat ada riwayat panas 3
hari. Esok paginya kami kembali ke rumah sakit dengan agenda tes darah di
laboratorium. Pendaftaran, pengambilan sampel darah sampai pengambilan hasil
memakan waktu kira-kira 2.5 jam. Dan hasilnya trombosit di bawah rata-rata 139
dengan nilai rujukan 150-440. Dokter menyarankan untuk di rawat. Tetapi kami
menolak karena kondisi anak kami masih sangat aktif dan tidak lemah. Kami pun
menandatangani surat penolakan rawat inap dan membawa si kecil kembali ke
rumah. Bukan tanpa usaha kami menolak rawat inap. Kami berikan dia sari kurma,
jus jambu biji merah, banyak air putih, dan madu.
Jika dalam waktu 2 hari anak kami
menunjukkan gejala kondisi fisik yang lemah, maka kami harus segera membawanya
ke rumah sakit untuk rawat inap. Dan jika tidak, 2 hari kemudian kami harus
kembali ke rumah sakit untuk mengambil sampel darah lagi. Meyakinkan trombositnya
kembali normal.
Dalam waktu dua hari tersebut,
kami lihat anak kami masih sangat aktif dan tidak menunjukkan gejala kondisi
fisik melemah. Dan sejak periksa pertama suhu tubuhnya normal. Di waktu yang di
jadwalkan untuk pengambilan sampel darah yang kedua, kami memutuskan untuk tidak
kembali ke rumah sakit. Karena kami melihat kondisinya sudah semakin membaik
dan semakin sehat.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar