Rabu, 24 November 2010

Promo Pond's berhadiah kalung berlian (bener ngga sih??)

Beberapa bulan yang lalu, Pond's mengadakan promo berhadiah kalung berlian. Siapa sih yang ngga mau kalung berlian? apalagi buat para cewek..Pertanyaannya sekarang, bener ngga sih promo itu. Kebanyakan orang malas untuk mengikuti program-program promo berhadiah seperti itu, karena memang banyak aksi penipuan di balik promo-promo seperti itu.
Sekitar bulan Juli 2010 lalu, saya berbelanja di sebuah Mall di daerah Cibubur, Jakarta Timur. Sampai rumah, saya langsung membongkar belanjaan saya termasuk Produk Pond's yang saya beli. Seperti iklan di TV, di dalam produk itu ada kode unik yang harus dikirimkan melalui SMS jika kita ingin mengikuti promo tersebut. Tanpa banyak berharap dan karena keisengan semata, saya mengirim kode unik tersebut.

Sekitar 2 bulan kemudian (September beberapa hari setelah hari Raya Idul Fitri), ada telpon masuk ke Handphone saya yang mengatasnamakan Ponds. Intinya telpon tersebut memberitahukan bahwa saya termasuk kandidat pemenang kalung berlian tersebut, dan menanyakan Alamat tinggal dan tempat pembelian produk Ponds. Dari situ saya disuruh menunggu sampai ada pemberitahuan berikutnya. Bagi pemenang akan mendapatkan telpon dari Ponds. Lagi-lagi saya tidak terlalu berharap dengan promo itu.



Beberapa bulan yang lalu, Pond's mengadakan promo berhadiah kalung berlian. Siapa sih yang ngga mau kalung berlian? apalagi buat para cewek..Pertanyaannya sekarang, bener ngga sih promo itu. Kebanyakan orang malas untuk mengikuti program-program promo berhadiah seperti itu, karena memang banyak aksi penipuan di balik promo-promo seperti itu.
 
Sekitar bulan Juli 2010 lalu, saya berbelanja di sebuah Mall di daerah Cibubur, Jakarta Timur. Sampai rumah, saya langsung membongkar belanjaan saya termasuk Produk Pond's yang saya beli. Seperti iklan di TV, di dalam produk itu ada kode unik yang harus dikirimkan melalui SMS jika kita ingin mengikuti promo tersebut. Tanpa banyak berharap dan karena keisengan semata, saya mengirim kode unik tersebut.

Sekitar 2 bulan kemudian (September beberapa hari setelah hari Raya Idul Fitri), ada telpon masuk ke Handphone saya yang mengatasnamakan Ponds. Intinya telpon tersebut memberitahukan bahwa saya termasuk kandidat pemenang kalung berlian tersebut, dan menanyakan Alamat tinggal dan tempat pembelian produk Ponds. Dari situ saya disuruh menunggu sampai ada pemberitahuan berikutnya. Bagi pemenang akan mendapatkan telpon dari Ponds. Lagi-lagi saya tidak terlalu berharap dengan promo itu.

Kemudian sekitar akhir Oktober 2010, ada pengumuman di tabloid Nova mengenai daftar pemenang 1000 kalung berlian itu. Saya termasuk di dalamnya. Karena penelpon pada bulan September mengatakan bahwa pemenang akan di hubungi via telpon, maka saya tidak mengambil langkah apapun (kecuali bersyukur tentunya...) setelah membaca pengumuman di tabloid tersebut. Setelah 2 minggu tidak terjadi apa-apa, akhirnya saya menelpon pihak Unilever dengan nomer telpon yang tertera di Tabloid tersebut. Menurut Customer Service, barang akan di kirim kepada pemenang, dan proses pengiriman memakan waktu minimal 1 bulan dari pengumuman di tabloid tersebut (berarti paling cepat akhir November).

Tepat pada hari Raya Idul Adha, datang sebuah surat pemberitahuan dari PT Misi Idea Selaras (maaf kalau salah...agak lupa..). Yang intinya memberitahukan bahwa pemenang harus membawa KTP, Surat pemberitahuan dari PT tersebut, dan Formulir pemenang yang dilampirkan dalam surat tersebut untuk mengambil hadiah tersebut pada hari kerja Senin-Jum'at pada jam 10.00-15.00 WIB.

Mungkin bagi para ibu rumah tangga sangat mungkin untuk mengambil pada jam-jam tersebut. Tetapi akan menjadi masalah jika pemenangnya adalah pekerja (karena saya bekerja). Pada hari dan jam tersebut mereka juga harus bekerja. Saya tidak tahu apakah bisa di wakilkan atau tidak. Dari situ, saya mencoba mengbuhungi PT tersebut. Saya menanyakan mengenai prosedur pengambilan dan waktu pemrosesan. Dan berikut adalah hasilnya:

1. KTP, Surat Pemberitahuan dan Formulir pemenang dapat dikirim via pos, dengan proses pengiriman barang 2-3 hari. Mengenai teknis pengiriman saya tidak menanyakan.
2. Sedangkan kalau kita datang langsung ke PT tersebut, kita langsung dapat mengambil hadiah/kalung-nya.
Saya memilih opsi nomer 2 yaitu datang langsung ke PT yang terletak di Jl penjernihan IV, no 5, Pejompongan tersebut (ambil cuti tentunya). Saya datang tepat pukul 13.20 WIB. Saya langsung diminta mengisi buku tamu yang ada di satpam, kemudian saya langsung di persilakan masuk keruangan yang telah disediakan.

Disitu saya bertanya kepada resepsionis, dengan mengatakan maksud kedatangan saya. Sesuai dengan yang tertera di surat pemberitahuan bahwa saya harus menyerahkan KTP, Surat Pemberitahuan, Formulir dan Nota Belanja+kode unik Ponds.

Tak berapa lama kemudian, saya mendapatkan hadiah berupa kalung berlian+sertifikatnya dan saya harus berfoto (sudah ada tukang fotonya) dengan kalung, sertifikat dan surat tanda terima.

Nah, jadi promo Unilever ini benar-benar ada dan hadiahnya nggak bohong.Yang paling penting, benar-benar tidak dipungut biaya apapun. Proses pengambilan secara langsung sangat mudah dan tidak berbelit-belit.

Tetapi saya belum tahu kalung itu seharga berapa. Karena kemaren pas saya telpon pihak F2 Jewelry tidak ada yang mengangkat. Kalau ada yang tau, boleh silakan di share..hehehe...

Update News :

seorang sahabat yang juga mendapatkan hadiah tersebut dan telah mengambilnya mengatakan bahwa, ketika menanyakan harganya di sebuah toko, benda tersebut hanya di tawar Rp 5000/gram.


browsing sana-sini di internet dapat info kira-kira kalung ini seharga 1 jutaan (belom diketahui berapa persen kebenarannya). 

Jadi bagaimana dengan teman-teman yang lain? Tertarik untuk tetap mengambil?

Selasa, 06 Juli 2010

Berbicara dengan Hati, Bukan Jari

Oleh: Sonny Wibisono *

"Matikan komputermu. Matikan juga ponselmu. Dan perhatikan manusia di sekelilingmu. "
-- Eric Schmidt, CEO Google

ADIL jengkel betul dengan istrinya. Sepanjang liburan akhir pekan keduanya sepakat memilih beristirahat di rumah. Lima hari bekerja membuat mereka ingin melemaskan otot-otot. Sekaligus tentu saja mempererat tali cinta diantara mereka berdua. Maklum, mereka belum lagi genap dua tahun menikah. Buah hati yang menjadi dambaan mereka tak kunjung datang. Mungkin Yang Di Atas belum memberikan mereka kepercayaan. Begitu keduanya menghibur diri.

Tapi akhir pekan yang seharusnya indah justeru berubah menyebalkan. Seharian Anita, sang istri, hanya berada di kamar. Mungkin saja letih. Dia ingin istirahat penuh. Namun yang membuatnya jengkel, Anita terus menggenggam gadget kesayangannya. Anita kadang tertawa sendiri. Sampai kadang dia tak ingin jauh dari colokan listriknya. Gadget kesayangannya itu sering kehilangan tenaga, sehingga terpaksa harus dicharge.

Adil geleng-geleng kepala. Namun Anita cuek bebek. Katanya, dia sedang asyik mengobrol dengan teman yang lama tak dijumpainya. Bertemu di jejaring sosial facebook, mereka kemudian bertukar nomor PIN. Lalu itulah yang terjadi, mereka mengobrol ngalor-ngidul sesuka hati. Adil pun memilih untuk keluar rumah dan mengobrol dengan tetangga.

Ponsel cerdas itu menjadi booming di dunia, termasuk Indonesia. Apalagi setelah beberapa tokoh dunia dan seleb memakainya juga. Kelebihan menggunakan gadget ini dibandingkan dengan ponsel biasa memang beragam, misalnya saja layanan push mail, menerima dan membalas email yang masuk pada saat itu juga. Atau mengambil foto dan mengirimkannya ke handai taulan di luar negeri dalam sekejap. Lalu ada pula fasilitas chatting, browsing, hingga fasilitas online berbagai situs jejaring sosial. Kedekatan seseorang di dunia maya seakan-akan tidak lagi terpisahkan oleh ruang dan waktu. Tak aneh bila kemudian muncul istilah, 'mendekatkan yang jauh, menjauhkan yang dekat.'

Namun memakai gadget ini bukan tak ada kekurangannya sama sekali. Contohnya, ya itu, interaksi antara Adil dan Anita menjadi tak nyaman. Ketika seseorang berasyik masyuk dengan dirinya dan dunianya sendiri, serta tidak memperdulikan lingkungan sekitar, apalagi menjadikannya sebagai ketergantungan yang sangat, maka menurut anak zaman sekarang dikatakan terkena 'gejala autis'. Tapi bukankah merujuk peribahasa, 'man behind the gun', bahwa baik-buruknya penggunaan teknologi tergantung si pemakainya? Betul. Bila pemakainya memakai dengan bijak, tentu tak masalah. Sebaliknya pun demikian.

Tapi nyatanya memang, menurut penelitian, ketergantungan akan gadget menyebabkan seseorang menjadi tak fokus. Bahkan para uskup senior di Liverpool, Inggris menantang umatnya untuk berpuasa teknologi selama 40 hari. Mereka mendorong masing-masing orang untuk memangkas penggunaan karbon dengan tidak memakai sejumlah gadget. Tingkat ketergantungan pemakai gadget memang sungguh luar biasa. Hingga muncul istilah, 'it is heaven for business owners, but hell for employees'.

Gadget dibuat dengan tujuan membantu si pemakainya. Untuk menjadikan urusan berjalan dengan efektif dan efisien. Ambil satu contoh, misalnya saja ketika diadakan rapat penting. Saat dalam rapat membutuhkan komunikasi rahasia di antara peserta rapat, tentu saja cara yang cerdas dengan menggunakan gadget yang tersedia.

Tetapi pada kenyataannya, yang kerap kita jumpai, teknologi yang awalnya dirancang untuk membantu kehidupan manusia, malah justeru membuat kita semakin menjauh satu dengan lainnya. Menjauh dari orang-orang yang kita kasihi, dan menjauh pula dari Tuhan yang sesungguhnya dekat dengan kita.

Dengarlah apa yang dikatakan Eric Schmidt, CEO Google, dalam pidatonya di University of Pennsylvania, Amerika Serikat, pada 18 Mei 2009 lalu dihadapan enam ribu wisudawan. Schmidt berujar, "Matikan komputermu. Matikan juga ponselmu. Dan perhatikan manusia di sekelilingmu. " Schmidt mengatakan demikian setelah melihat banyaknya kaum muda yang hanya terpaku pada dunia virtual di internet. Seakan tak peduli untuk berelasi dengan orang lain.

Itulah yang dirasakan Adil sekarang. Ia merasa jauh sekali dari istrinya. Adil sesungguhnya tak menuntut lebih dari Anita. Adil hanya ingin Anita menghentikan sekali saja pada saat mereka berada di rumah. Apalagi disaat-saat mereka sedang berdua atau liburan. Baginya komunikasi yang baik bukan lagi semata dengan jari-jari, walau teknologi sudah maju. Berbicara dengan tatap muka, ekspresi wajah, dan bahasa tubuh tentu lebih memanusiakan diri.

Kita seharusnya memang dapat berhenti sejenak dari kegaduhan dunia virtual dan kembali pada 'habitatnya' sebagai makhluk sosial.

*) Sonny Wibisono, penulis buku 'Message of Monday', PT Elex Media Komputindo, 2009