Kamis, 11 Desember 2014

Dilema Ibu Pekerja

Terakhir posting bulan Agustus 2014, wow lama banget yah. Nggak apa-apa lah ya..jarang-jarang juga yang penting ada update. Mudah-mudahnya kedepannya bisa update blog daily. Amin..
Kali ini saya akan membahas mengenai "Dilema Ibu Pekerja". Perlu digaris bawahi bahwa di dalam tulisan ini tidak akan membahas pilihan mana yang paling benar antara "Ibu" dan "Pekerja". Justru saya berharap tulisan ini mampu memotifasi ibu-ibu yang memutuskan untuk full di rumah mengasuh anak dan untuk ibu-ibu yang memutuskan untuk tetap berpenghasilan.
Tulisan ini diilhami oleh pengalaman pribadi saya sebagai ibu dan seorang karyawan. Ok langsung saja ya..
Anak mempunyai masa emas pertumbuhan. Dimana sebaiknya pada usia itu ibulah yang mendamping perkembangannya. Tapi banyak anak-anak usia balita yang di titipkan untuk di asuh orang lain. Baik oleh baby sister, asisten rumah tangga atau keluarga karena si ibu harus bekerja. Alasan bekerja pun beragam. 
  1. Karir di perusahaan tempatnya bekerja sedang bagus
  2. Sayang dengan gaji yang sudah besar
  3. Adanya tanggungan (ex. cicilan rumah) yang harus di bayar dan kalau mengandalkan gaji suami menurut matematika manusia kurang.
  4. Single parent
  5. Dan lain-lain
 Alasan untuk tetap bekerja pun tidak melulu datangnya dari keegoisan ibu yang tidak mau meninggalkan pekerjaannya karena masalah karir. Seperti pada alasan nomor 3 dan 4 di atas. Dimana si ibu ini sebenarnya ingin mengurus anak di rumah tetapi karena ada faktor lain yang mengharuskannya untuk tetap berkarir. Lalu dengan ibu yang memutuskan untuk tetap berkarir karena alasan lain, bisa jadi karena dia ingin menjamin masa depan anaknya lebih baik. Menjamin kesejahteraan dan pendidikannya. 
Apapun alasan ibu bekerja itu adalah untuk keluarga dan anak, saya pikir tidak ada masalah. Jangan sampai memutuskan untuk tetap bekerja karena alasan seperti merasa bosan di rumah dengan lingkup yang itu-itu saja, atau tidak bisa lagi hang out bersama teman-teman. Perlu diperhatikan juga dengan siapa anak kita dititipkan. Kalau yang mengasuh adalah neneknya tentu itu lebih baik. Lain dengan jika anak dititipkan kepada orang yang tidak kita kenal sebelumnya, seperti asisten rumah tangga atau baby sister. Sebagai ibu harus jeli dalam memilih pengasuh anak. Jangan sampai anak-anak ini justru menjadi korban ketidakprofesionalan  mereka. 
Kemudian yang berikutnya adalah ibu yang meninggalkan karirnya demi mengasuh anak-anaknya. Banyak sekali ibu yang menempuh langkah ini dan salut buat mereka (agak iri dengan mereka :( hiks). Sekali lagi kondisi setiap keluarga berbeda-beda. Jika memang pemasukan dari suami cukup untuk memenuhi kebutuhan ya tidak ada salahnya jika istri/ibu memutuskan untuk fokus terhadap anak. Saya mengikuti sebuah forum yang isinya ibu-ibu semua. Dari ibu-ibu muda sampai yang sudah punya cucu juga ada. Mayoritas dari penghuni forum ini adalah ibu-ibu yang memutuskan untuk tidak berkarir, sehingga dengan adanya forum ini mereka saling bisa berbagi dan menguatkan satu sama lain. Kadang sebagai wanita karir yang tiba-tiba harus berada di rumah ada rasa bosan, merasa tidak berguna, sayang dengan ijasah dan kuliahnya yang bertahun-tahun itu. 
Pernah suatu kali saya memposting kegalauan saya  mengenai masalah ini. Banyak sekali masukan yang saya dapatkan. Berbagai macam latar belakang ibu-ibu yang memberikan masukan. Bahkan ada seorang Dokter yang rela melepas jas putihnya demi mengasuh anaknya yang memang memerlukan perawatan khusus. Yang lain seorang PNS di kota bandung yang siap berhenti pertengahan 2015 ini. Dosen dengan pendidikan S2 yang dengan ikhlas melepas karirnya di universitas. Dan banyak ibu-ibu dengan karir yang cemerlang tetapi lebih memilih keluarga. Inspiratif sekali.
"Meskipun kita berhenti bekerja, Allah tidak akan mengurangi rejeki keluarga kita." 
Kalimat inilah yang memotifasi ibu-ibu segera berhenti bekerja. Tetapi tidak semua orang dengan mudah menerima kalimat ini, termasuk saya. 
Lalu berikutnya ada ibu-ibu yang tetap berpenghasilan meski tidak keluar rumah. Ada yang ikut MLM produk kecantikan,  freelance, membuka usaha kecil-kecilan di rumah dan lain-lain. Yang terakhir ini sebenarnya bisa menjadi solusi permasalahan ini. Tetapi tetap kembali kepada individu masing-masing. Dan apapun pilihannya asal itu baik untuk keluarga terutama anak, why not?

Sekian tulisan ini, lebih seperti pendapat dan curhatan sih.. tapi nggak apa-apa lah..
Ingin mencopy percakapan di forum ibu-ibu yang saya ikuti, tapi sudah tertimpa dengan posting yang lain..kalaupun ada menyusul..

Mudah-mudahan Allah senantiasa melimpahkan anugrahnya kepada keluarga kita. Amin..

Jumat, 15 Agustus 2014

Separation Anxiety Disorder (SAD) pada anak

Seperti biasa jam delapan pagi, Fina suda dijemput budenya. Karena saya bekerja, setiap hari dari jam delapan sampai jam empat sore ia berada di rumah budenya yang jaraknya hanya sekitar 200 m dari rumah kami. Walaupun saya bekerja di rumah, tetapi saya belum bisa mengasuh Fina sambil bekerja. Karena di usianya yang baru menginjak 20 bulan, tentunya ia belum mengerti tentang apa yang saya lakukan. Setiap saya berada di depan komputer, ia selalu ingin bersama saya dan ikut memencet keyoard dan mouse. Maka dari itu sementara ini ia di asuh oleh budenya.
Tak seperti biasanya, si kecil menjadi sulit berpisah dengan saya. Ia benar-benar tidak mau dibawa oleh budenya. Entah apa yang terjadi. Sempat berpikir apa mungkin anak ini mendapatkan perlakuan kasar dari budenya? Tapi saya segera menepis pemikiran itu karena saya tahu bahwa budenya sangat penyabar. Dan ketika berada di rumahnya pun Shafina menjadi cengeng, sering menangis menanyakan ayah dan ibunya. Padahal sebelumnya tidak seperti itu. Hal ini berlangsung tiga hari termasuk hari ini.
Penasaran dengan apa yang terjadi pada anak saya. Saya pun mencari informasi di internet dan muncullah istilah Separation Anxiety Disorder (SAD). SAD adalah kondisi dimana anak tidak mau atau sulit berpisah dengan orang tuanya. Keadaan anak yang sulit untuk berpisah dengan Mama atau Papanya itu tidak mungkin dibiarkan begitu saja. Bahkan, mungkin ada beberapa orang tua yang sudah ‘kebal’ dengan tangisan dan teriakan anaknya, dan menganggap bahwa nanti kalau anak sudah lelah, dia akan diam sendiri. Padahal, ada cara untuk mengatasi SAD pada anak, lho. Nah, jika anak Mama mengalami SAD, cobalah beberapa tips di bawah ini.

1.    Di dalam keluarga, setiap anggota keluarga harus menjalankan perannya sendiri. Misalnya, orang tua harus sadar bahwa mereka perlu membimbing anak untuk mandiri. Pengasuhan atau perhatian yang berlebihan seharusnya dikurangi.

2.    Modelling behavior atau meniru pola perilaku. Anak adalah peniru ulung. Jika ia melihat Anda bersikap ramah ketika bertemu orang yang asing, ia tidak akan merasa takut dengan orang yang baru. Bagaimana pun, perilaku Anda menjadi acuan bagi anak.

3.    Introspeksi hubungan dengan pasangan. Mungkin saja, hubungan Anda berdua bermasalah sehingga manifestasinya ke anak. Seharusnya, perhatian Anda bisa dibagi secara rata. Jadi, Anda tidak hanya fokus ke anak saja, tapi juga ke pasangan.

4.    Mulai usia 3 tahun ke atas. Ajarkan anak melakukan kewajiban pribadinya, seperti tidur, mandi, atau makan sendiri. Biarkan si kecil belajar untuk mandiri di rumah.


Menurut psikiater asal AS, Anne Marie Albano, anak dengan SAD umumnya akan menolak sekolah. Ada beberapa solusinya, yakni:

1.    Terapkan teknik flooding (langsung). Caranya adalah dengan menitipkan anak ke orang yang dipercaya. Misalnya, ketika di sekolah, titipkan anak pada gurunya. Jika ia menangis, biarkan guru yang menenangkannya. Proses ini bisa berlangsung selama kurang lebih seminggu sampai anak terbiasa.

2.    Systematic desensitization. Secara bertahap, jauhi si kecil dengan pelan-pelan. Umumnya, proses ini berlangsung selama 2 - 3 bulan. Awalnya, Anda menunggu sambil duduk dekat dengannya. Esoknya duduklah lebih menjauh dari posisi sebelumnya. Terus lakukan sampai Anda benar-benar menghilang.

Sumber : parenting.co.id

Senin, 23 Juni 2014

Si Peniru Ulung

Istilah peniru ulung memang sangat cocok digunakan untuk menyebut kebiasaan anak-anak atau balita yang gemar menirukan perkataan maupun perbuatan orang yang lebih tua darinya. Baik itu orang tua, paman, bibi, kakak, dan yang lainnya. Meskipun belum bisa bicara tetapi balita adalah jagonya dalam merekam pembicaraan maupun tingkah laku orang tuanya. Dan akan di praktekkan persis seperti apa yang kita lakukan dikemudian hari. Untuk itu mengapa kita sebagai orang tua harus memilih kata-kata dan bertindak yang baik. Jangan sampai keteledoran kita dalam memilih kata-kata akan ditiru olehnya.
Anak perempuan biasanya akan mengikuti kebiasaan ibunya berdandan, memakai bedak, lipstrik, dan lain-lain. Seperti juga putriku Shafina. Beberapa hari yang lalu kami mau menghadiri acara tasyakuran sunatan di rumah salah satu keluarga. Seperti biasanya saya memakai kerudung dan sedikit berdandan. Ia seperti tidak mau kalah, meminta saya mengambilkan kerudung segi empat di rak lemari. Kemudian dia pun mulai membuka lipatan kerudung itu dan memakai di kepalanya.Masa ini sebenarnya bisa menjadi saat yang baik untuk mengajarinya hal-hal yang baik. Seperti contohnya mengajarinya buang air kecil di kamar mandi, membuang sampah pada tempatnya dan hal-hal baik lainnya.
Sebaliknya jika kita salah mengajarinya atau tidak sengaja melakukan kesalahan, dia akan tetap mengikutinya. Pernah suatu ketika kami sedang pergi jalan-jalan. Ketika itu si ayah melihat ada kejanggalan di pinggir jalan. Ia pun mengeluarkan kata-kata yang tidak sepantasnya secara reflek. Tanpa menunggu lama si kecil langsung mengikuti perkataan ayahnya itu berulang-ulang, tentunya dengan pengucapan yang belum jelas. Tapi tetap saja ia bermaksud menirukan apa yang di katakan ayahnya. Buru-buru si ayah langsung meralat ucapannya dan si kecil pun mengikutinya. 
Begitulah hebatnya anak-anak kita. Di tubuh kecilnya tersimpan kejutan-kejutan yang mungkin jauh dari pikiran kita. Dan ketika kita sudah mau menjadi orang tua, itu artinya kita harus konsisten terhadap konsekuensinya. Maksudnya adalah ketika kita menjadi orang tua ada beberapa hal yang harus kita tinggalkan atau ada beberapa hal yang harus kita ubah. Contohnya seperti kebiasaan mengucapkan kata-kata kasar sedikit demi sedikit harus diubah, jika kita tidak mau anak-anak kita akan mengikuti kita mengucapkan kata-kata itu. Dimana kata-kata seperti itu belum pantas diucapkan oleh balita, walaupun ketika sudah dewasa pun sebenarnya juga tidak pantas. 
Mari kita jaga anak-anak kita dari hal-hal yang bisa berpengaruh buruk di kehidupannya dan sebagai orang tua terutama itu sudah menjadi tugasnya mendidik anak-anaknya dengan hal-hal yang baik.

Selasa, 17 Juni 2014

Fisioterapi inhalasi aka uap

Dulu sempat bertanya-tanya, ketika ada anak tetangga yang batuk dan orang tuanya bilang bahwa anaknya harus di "uap". Uap? anaknya di asapi?  Istilah yang lebih keren untuk uap adalah fisioterapi inhalasi. Yaitu terapi untuk meringankan batuk dan pilek.

Beberapa waktu yang lalu Shafina batuk dan pilek. Aku bukan termasuk ibu yang suka berkunjung ke rumah sakit. Dimana anak sakit sedikit langsung rumah sakit. Aku berusaha seminimal mungkin agar Fina tidak terlalu banyak mengkonsumsi obat-obatan kimia. Kira-kira satu minggu batuk dan pileknya belum juga membaik. Saya dan suami langsung membawa Shafina ke rumah sakit Hermina Bekasi. Hasil dari konsultasi dokter, Fina harus di inhalasi atau di uap sebanyak 3 kali. 

Selesai membayar obat, kami bawa fina ke bagian fisioterapi. Bagi yang baru pertama kali melakukan terapi ini, kami di wajibkan membeli selang inhalasi harganya cukup terjangkau.

Gambar di atas adalah bentuk selang inhalasi. Kalau baca dari buku pasien obat untuk inhalasi adalah Na Cl dan ventolin. Proses inhalasi penuh melibatkan orang tua. perawat hanya menakar obat, memasang selang dan menghidupkan alat untuk inhalasinya. Selepas itu adalah tugas orang tua untuk membuat anak-anak kita merasa nyaman dengan terapi ini. 

Lima menit pertama, Fina masih duduk dengan manis dan masih berceloteh ini dan itu. Tetapi 5 menit berikutnya dia mulai merasa tidak nyaman dan mungkin juga bosan karena harus duduk dalam waktu 10 menit. Waktu yang cukup lama untuk berdiam diri bagi Fina yang petakilan dan tidak bisa diam. Selama lima menit terakhir itu dia berusaha melepas selang dan menangis sambil sesekali berteriak. Sebagai orang tua, mau tidak mau aku harus tega memegang selang uap dan menempelkan ke hidungnya agar tidak banyak asap yang terbuang.

Setelah inhalasi selama 10 menit, selanjutnya dada dan punggung bayi di oleskan balsam khusus untuk bayi dan anak-anak, sambil di tepuk-tepuk. Alhamdulillah setelah tiga kali inhalasi, batuk dan pileknya mereda.

Mencegah lebih baik dari pada mengobati.  

Menjadi ibu baru dan dilema perubahan bentuk tubuh

Ketika itu tanggal 31 Desember 2012 jam setengah 3 sore putriku lahir. Dan mulai saat itu juga tanggungjawab besar sebagai ibu berada di pundakku. Tugas untuk mendidik dan menjadikannya anak yang berbakti kepada orang tua dan solehah berada padaku. Beruntung aku melahirkan di Jogja dimana orang tuaku tinggal. Setelah melahirkan aku pulang ke rumah orang tua. Karena Fina anak pertama dan tentu aku belum berpengalaman merawat bayi. Kedua orang tuaku sangat bahagia dengan kelahiran cucu pertama mereka, begitu pula dengan bapak dan ibu mertuaku yang juga sangat bahagia dengan lahirnya Fina.

Awal-awal menjadi ibu, aku sering merasa iri kepada ibuku sendiri karena beliau lebih sering menggendong anakku. Disamping karena aku belum pengalaman, juga karena luka operasi caesar yang belum sembuh membatasi gerakanku. Lambat laun aku mulai terbiasa menjadi ibu dan menikmatinya.

Seperti ibu-ibu baru yang kadang merasa tubuhnya tak lagi seindah dulu. Aku pun juga merasakannya. Berat badan naik drastis 25 kg. Berat badan terakhir ketika hamil menginjak angka 81kg. Banyak yang bilang, "hamil aja segitu gimana nanti menyusui?". Perkataan-perkataan yang semakin membuat galau waktu itu. Sedih juga ketika bercermin, bentuk tubuh lebih mirip "pohon beringin". Saat-saat merindukan bentuk tubuh ketika masih kuliah. Baju-baju lama tidak bisa di pakai lagi. Al hasil aku harus membeli beberapa baju dengan ukuran yang WOW.

Satu bulan setelah kelahiran Shafina, kami membawanya ke bidan, karena si bayi panas. Tepat pada waktu aqiqah dan "selapanan" di budaya orang Jawa. Syukur alhamdulillah Fina tidak apa-apa, dan memang budaya Jawa ada yang mempercayai bahwa hal itu wajar saja karena berhubungan dengan hari lahirnya. Bahkan tradisi orang Jawa masih ada yang membuatkan tumpeng sederhana ketika jatuh pada hari jawa kelahiran anak dengan tujuan agar si anak tidak rewel. Hari Jawa maksudnya seperti Senin Wage, Selasa pon, dan lain-lain.

Ketika di Bidan aku menimbang berat badan dan wala...bulan pertama pasca melahirkan langsung turun 10kg. Betapa bangganya ketika itu, bisa menurunkan berat badan 10kg dalam jangka waktu 1 bulan. Aku pikir hal itu wajar saja karena aku menyusui, meski tidak secara langsung. Fina tidak mau menyusu padaku secara langsung karena puting susunya kecil. Akhirnya demi asi eksklusif meski memakai dot, aku harus rela dengan sabar memompa asi dan menyimpannya di dalam kulkas. 

Selain karena menyusui juga karena faktor makanan. Menurut tradisi orang Jawa, setelah mehirkan seorang ibu tidak boleh makan protein hewani. Alasannya nanti air susu akan menjadi amis begitu pula dengan bayinya. Juga akan memperlambat proses penyembuhan jika proses persalinan ada robekan dan harus di jahit. Hal ini tentu saja bertentangan dengan dunia kedokteran. Karena justru protein hewani yang bisa mempercepat proses penyembuhan luka. Waktu itu aku tetap makan ayam, ikan, daging, telur dan lain-lain. Hanya saja, porsi nasi jauh lebih sedikit. Lho kenapa? Bukannya ibu menyusui cepat lapar? Kenapa nasinya justru di kurangi? Memang benar ibu menyusui lebih sering merasa lapar, karena setiap makanan yang kita makan bukan untuk kita sendiri tapi juga untuk bayi kita.

Di Jawa, sayuran hijau itu dipercaya dapat menambah volume asi dan kekentalan asi. Jadi bayi yang meminumnya juga akan merasa lebih kenyang dari pada ketika kita tidak menyantap sayuran hijau. Berlandaskan hal itu, setiap hari menu makanan yang tidak pernah ketinggalan adalah sayuran hijau yang hanya direbus saja, tanpa bumbu sama sekali. Bisa daun bayam, daun singkong, daun pepaya, daun katuk, daun kacang panjang, dan lain-lain. Dari semua jenis dedaunan itu yang paling menghasilkan banyak asi adalah daun kacang panjang dan daun katuk. Sehingga menu makananku waktu itu adalah sedikit nasi, sepiring penuh dedaunan, sayur berkuah dan lauk. O ya, dengan memakan sayuran hijau kita bisa merasa kenyang lebih lama dari pada menyantap nasi. Dan kita semua tahu bahwa sayuran hijau lebih sehat dan kaya serat dan tentu tidak mengandung lemak yang tentu saja bersahabat dengan berat badan kita.

Bulan berikutnya berat badan turun tidak sedrastis bulan sebelumnya, bulan ke 2 hanya turun 5kg. Setelah itu berat badan turun konstan antara 2/3kg setiap bulannya. Hingga akhirnya pada bulan ke 6, berat badan sudah kembali seperti sebelum hamil. Mungkin juga karena mulai bulan keempat aku merawat bayi Shafina sendiri, karena pas genap usianya 3 bulan kami membawa Fina ke Bekasi.

Begitulah sekilas cerita pengalaman menjadi ibu baru dan juga di lema bentuk tubuh yang lebih mirip dengan pohon beringin ketika itu. Sekarang Fina sudah 1.5 tahun dan alhamdulillah baju-baju lama bisa di pakai lagi. Hanya saja memang bentuk tubuh ibu-ibu tidak lagi sama seperti waktu masih gadis dulu. Tapi itulah kodratnya perempuan dan nikmatnya menjadi ibu. Jangan terlalu mengkhawatirkan bentuk tubuh, selama suami kita bisa menerima kita apa adanya.