Senin, 23 Juni 2014

Si Peniru Ulung

Istilah peniru ulung memang sangat cocok digunakan untuk menyebut kebiasaan anak-anak atau balita yang gemar menirukan perkataan maupun perbuatan orang yang lebih tua darinya. Baik itu orang tua, paman, bibi, kakak, dan yang lainnya. Meskipun belum bisa bicara tetapi balita adalah jagonya dalam merekam pembicaraan maupun tingkah laku orang tuanya. Dan akan di praktekkan persis seperti apa yang kita lakukan dikemudian hari. Untuk itu mengapa kita sebagai orang tua harus memilih kata-kata dan bertindak yang baik. Jangan sampai keteledoran kita dalam memilih kata-kata akan ditiru olehnya.
Anak perempuan biasanya akan mengikuti kebiasaan ibunya berdandan, memakai bedak, lipstrik, dan lain-lain. Seperti juga putriku Shafina. Beberapa hari yang lalu kami mau menghadiri acara tasyakuran sunatan di rumah salah satu keluarga. Seperti biasanya saya memakai kerudung dan sedikit berdandan. Ia seperti tidak mau kalah, meminta saya mengambilkan kerudung segi empat di rak lemari. Kemudian dia pun mulai membuka lipatan kerudung itu dan memakai di kepalanya.Masa ini sebenarnya bisa menjadi saat yang baik untuk mengajarinya hal-hal yang baik. Seperti contohnya mengajarinya buang air kecil di kamar mandi, membuang sampah pada tempatnya dan hal-hal baik lainnya.
Sebaliknya jika kita salah mengajarinya atau tidak sengaja melakukan kesalahan, dia akan tetap mengikutinya. Pernah suatu ketika kami sedang pergi jalan-jalan. Ketika itu si ayah melihat ada kejanggalan di pinggir jalan. Ia pun mengeluarkan kata-kata yang tidak sepantasnya secara reflek. Tanpa menunggu lama si kecil langsung mengikuti perkataan ayahnya itu berulang-ulang, tentunya dengan pengucapan yang belum jelas. Tapi tetap saja ia bermaksud menirukan apa yang di katakan ayahnya. Buru-buru si ayah langsung meralat ucapannya dan si kecil pun mengikutinya. 
Begitulah hebatnya anak-anak kita. Di tubuh kecilnya tersimpan kejutan-kejutan yang mungkin jauh dari pikiran kita. Dan ketika kita sudah mau menjadi orang tua, itu artinya kita harus konsisten terhadap konsekuensinya. Maksudnya adalah ketika kita menjadi orang tua ada beberapa hal yang harus kita tinggalkan atau ada beberapa hal yang harus kita ubah. Contohnya seperti kebiasaan mengucapkan kata-kata kasar sedikit demi sedikit harus diubah, jika kita tidak mau anak-anak kita akan mengikuti kita mengucapkan kata-kata itu. Dimana kata-kata seperti itu belum pantas diucapkan oleh balita, walaupun ketika sudah dewasa pun sebenarnya juga tidak pantas. 
Mari kita jaga anak-anak kita dari hal-hal yang bisa berpengaruh buruk di kehidupannya dan sebagai orang tua terutama itu sudah menjadi tugasnya mendidik anak-anaknya dengan hal-hal yang baik.

Selasa, 17 Juni 2014

Fisioterapi inhalasi aka uap

Dulu sempat bertanya-tanya, ketika ada anak tetangga yang batuk dan orang tuanya bilang bahwa anaknya harus di "uap". Uap? anaknya di asapi?  Istilah yang lebih keren untuk uap adalah fisioterapi inhalasi. Yaitu terapi untuk meringankan batuk dan pilek.

Beberapa waktu yang lalu Shafina batuk dan pilek. Aku bukan termasuk ibu yang suka berkunjung ke rumah sakit. Dimana anak sakit sedikit langsung rumah sakit. Aku berusaha seminimal mungkin agar Fina tidak terlalu banyak mengkonsumsi obat-obatan kimia. Kira-kira satu minggu batuk dan pileknya belum juga membaik. Saya dan suami langsung membawa Shafina ke rumah sakit Hermina Bekasi. Hasil dari konsultasi dokter, Fina harus di inhalasi atau di uap sebanyak 3 kali. 

Selesai membayar obat, kami bawa fina ke bagian fisioterapi. Bagi yang baru pertama kali melakukan terapi ini, kami di wajibkan membeli selang inhalasi harganya cukup terjangkau.

Gambar di atas adalah bentuk selang inhalasi. Kalau baca dari buku pasien obat untuk inhalasi adalah Na Cl dan ventolin. Proses inhalasi penuh melibatkan orang tua. perawat hanya menakar obat, memasang selang dan menghidupkan alat untuk inhalasinya. Selepas itu adalah tugas orang tua untuk membuat anak-anak kita merasa nyaman dengan terapi ini. 

Lima menit pertama, Fina masih duduk dengan manis dan masih berceloteh ini dan itu. Tetapi 5 menit berikutnya dia mulai merasa tidak nyaman dan mungkin juga bosan karena harus duduk dalam waktu 10 menit. Waktu yang cukup lama untuk berdiam diri bagi Fina yang petakilan dan tidak bisa diam. Selama lima menit terakhir itu dia berusaha melepas selang dan menangis sambil sesekali berteriak. Sebagai orang tua, mau tidak mau aku harus tega memegang selang uap dan menempelkan ke hidungnya agar tidak banyak asap yang terbuang.

Setelah inhalasi selama 10 menit, selanjutnya dada dan punggung bayi di oleskan balsam khusus untuk bayi dan anak-anak, sambil di tepuk-tepuk. Alhamdulillah setelah tiga kali inhalasi, batuk dan pileknya mereda.

Mencegah lebih baik dari pada mengobati.