Rabu, 06 April 2016

Descendants of The Sun


Buat para pecinta drama korea, pasti sudah tahu tentang drama yang masih ongoing di negaranya sana. Film ini dibintangi oleh Song Joong Ki (Yoo Si Jin), Song Hye Kyo (Kang Mo Yeon), Jin Go (Seo Dae Young),  Kim Jo won (Yoon Myoung Ju). 

Song Joong Ki (Kapten Yoo Si Jin)
Song Hye Kyo (Dr Kang Mo Yeon)
Jin Go (Sersan Mayor Seo Dae Young)
Kim Jo won (Letnan/Dr Yoon Myung Ju)


Drama ini menceritakan kisah romantisme antara Kapten Yoo Si Jin pemimpin pasukan Tim Alpha (pasukan perdamaian PBB dari Korea). Dimana pasukan ini sering di tugaskan ke daerah-daerah konflik dengan berbagai tujuan yang sangat berbahaya dan membahayakan nyawa mereka sendiri. Pada suatu hari dia bertemu dengan Dr Kang Mo Yeon. Seorang dokter yang sangat berdedikasi dengan profesinya. Keduanya saling menyukai, tetapi setiap kali menghabiskan waktu bersama, selalu ada gangguan berhubungan dengan pekerjaan Kapten Yoo. Sebagai tentara dia tidak bisa menolak perintah atasan, apapun kondisinya. Sehingga dia beberapa kali meninggalkan Mo Yeon di tengah acara kencan mereka. Mo Yeon sangat kecewa dan merasa tidak tahu apa-apa mengenai pekerjaan Si Jin.

Hingga pada suatu hari mereka dipertemukan di sebuah Negara konflik, Urk (yang ternyata Negara fiktif menurut keterangan kru filmnya). Mo yeon berserta beberapa dokter dan perawat dari rumah sakit dia bekerja mendapatkan tugas kemanusiaan di daerah konflik tersebut. Sedangkan tim Alpha bertugas sebagai pasukan perdamaian disana. Di tempat ini keduanya mulai menyatakan perasaan masing-masing dengan cara yang unik. Di tempat ini pula Mo Yeon beberapa kali hampir mati, tetapi selalu di selamatkan oleh Si Jin. Kebayang kan gimana heroiknya Si Jin menyelamatkan pacarnya yang sedang di culik, atau pada saat mereka berusaha keluar dari ladang ranjau, atau ketika mobil Mo Yeong hampir jatuh ke jurang. Yang paling penting adalah kebingunan Mo yeon dengan pekerjaan Si Jin. Ia sangat mencintai Si Jin tetapi dia takut dengan pekerjaan Si Jin yang berbahaya. Hingga pada suatu hari dia benar-benar merasakan berada bersama Si Jin dalam situasi yang sangat berbahaya, yaitu ketika dia diculik. Bocoran adegan romantisnya adalah ketika Si Jin memeluk Mo yeon sambil menutup matanya ketika menembak musuhnya. Dia berkata agar Mo Yeon melupakan bagian itu.

Selain kisah cinta Kang Mo Yeon dan Yoo Si Jin, drama ini juga bercerita tentang Sersan Mayor Seo Dae Young dan Letnan Yoon Myung Ju. Keduanya saling mencintai. Tetapi ayah Myung Ju tidak merestui hubungan keduanya. Dia ingin mempunyai menantu Yoo Si Jin yang notabene adalah teman baik Seo Dae Young.

Pada akhirnya, ayah Myung Ju menyetujui hubungan mereka dengan catatan, Dae Young harus melepaskan seragam tentaranya jika ingin bersama putrinya. Ayah Myung Ju tidak ingin mempunyai menantu dengan pangkat Sersan Mayor.

That’s all sampai episode 12. Masih menunggu episode selanjutnya.




Rubella Shafina


­­Seminggu yang lalu anak kami mengalami panas selama 3 hari. Suhu tubuhnya akan normal selama reaksi obat turun panas masih bekerja. Selang beberapa jam setelah reaksi obat hilang, suhu tubuhnya akan naik perlahan-lahan. Dan ketika dia mulai demam, kami pun memberinya obat turun panas lagi. Meskipun suhu tubuhnya tinggi, anak kami tetap ceria dan tidak lemah kondisi fisiknya. Begitu seterusnya hingga pada hari ke 3, kami menemukan bercak kemerahan di sebagian wajah dan dadanya. Campak kah? Tetapi waktu menjelang usia satu tahun dia sudah terkena campak hingga merata ke seluruh badan.

Karena tidak mau mengambil resiko, maka kami pun langsung membuat janji dengan pada malam harinya. Kami mengutarakan keluhan dan gejala yang di alami. Setelah memerika anak kami, SPA mengatakan bahwa anak kami terkena Rubella/campak Jerman. Dokter hanya mengatakan bahwa campak jerman ini berbeda dengan campak yang dialami sebelumnya. Berikut ini adalah beberapa perbedaan campak dengan rubella/campak jerman.

  1. Campak disebabkan paramyxovirus, sedangkan campak jerman/rubella disebabkan virus Rubella RNA (dr Meta Hanindita, SpA dari Rumah Sakit Dr Soetomo Surabaya-detikhealth).
  2.  Rash/ruam pada campak jerman mirip dengan rash pada campak, tapi bisa dibedakan dengan gejala lain
  3.  Panas pada campak biasanya panas tinggi, yakni dengan temperatur lebih dari 38,5 derajat Celcius. Sedangkan pada campak jerman demamnya lebih ringan, di mana kurang dari 38,5 derajat Celcius. Campak jerman bisa berbahaya jika dialami ibu hamil karena dapat menyebabkan kematian bayi dalam kandungan atau keguguran
  4. Rash pada campak akan menghitam lalu mengelupas sendiri setalah 1-2 minggu.
  5. Untuk mencegah penyakit campak, maka anak bisa mendapatkan vaksin campak. Sementara untuk mencegah campak jerman atu rubella adalah dengan imunisasi Measles, Mumps and Rubella(MMR).
  6. Rubella mudah menular.

Rubella juga di kenal dengan campak 3 hari. Menurut pendapat pribadi, mungkin karena ruamnya akan hilang dalam 3 hari. Karena dari pengamatan kami, campak yang dialami anak kami sekarang jauh lebih ringan dibandingkan campak yang sebelumnya. Karena yang sebelumnya disertai beberapa gejala lain seperti batuk. Dan anak tidak mau makan sama sekali hingga kondisinya lemah, tetapi karena dia masih mau minum susu, dokter tidak menyarakan rawat inap.



Tidak sampai disitu, dokter merekomendasikan untuk tes darah. Sebuhungan dengan merebaknya penyakit DBD, dokter khawatir anak kami terjangkit DBD juga, mengingat ada riwayat panas 3 hari. Esok paginya kami kembali ke rumah sakit dengan agenda tes darah di laboratorium. Pendaftaran, pengambilan sampel darah sampai pengambilan hasil memakan waktu kira-kira 2.5 jam. Dan hasilnya trombosit di bawah rata-rata 139 dengan nilai rujukan 150-440. Dokter menyarankan untuk di rawat. Tetapi kami menolak karena kondisi anak kami masih sangat aktif dan tidak lemah. Kami pun menandatangani surat penolakan rawat inap dan membawa si kecil kembali ke rumah. Bukan tanpa usaha kami menolak rawat inap. Kami berikan dia sari kurma, jus jambu biji merah, banyak air putih, dan madu.

Jika dalam waktu 2 hari anak kami menunjukkan gejala kondisi fisik yang lemah, maka kami harus segera membawanya ke rumah sakit untuk rawat inap. Dan jika tidak, 2 hari kemudian kami harus kembali ke rumah sakit untuk mengambil sampel darah lagi. Meyakinkan trombositnya kembali normal.

Dalam waktu dua hari tersebut, kami lihat anak kami masih sangat aktif dan tidak menunjukkan gejala kondisi fisik melemah. Dan sejak periksa pertama suhu tubuhnya normal. Di waktu yang di jadwalkan untuk pengambilan sampel darah yang kedua, kami memutuskan untuk tidak kembali ke rumah sakit. Karena kami melihat kondisinya sudah semakin membaik dan semakin sehat.


Senin, 04 Mei 2015

Wisata Pantai Bron, Gunungkidul

Gunungkidul, sebuah kabupaten yang terletak di sebelah selatan kota Yogyakarta. Dulu kota kecil ini identik dengan kondisi wilayah yang tandus dan kekeringan. Kini Gunungkidul tak lagi dipandang sebelah mata, banyaknya objek wisata alam menjadi daya tarik tersendiri bagi kabupaten yang beribu kota di wonosari ini. Pantai, Sungai bawah tanah. wisata petualangan, dan lain-lain. Namun jauh sebelum wisata-wisata baru ini ditemukan dan mulai menjadi daya tarik wisatawan. ada satu pantai yang sudah terkenal di Gunungkidul dari berpuluh tahun yang lalu, inilah yang di sebut pantai Baron.
Waktu tempuh dari kota Yogyakarta menuju pantai Baron kurang lebih 2 jam. Harga tiket masuk cukup Rp 10.000/ orang. Dimana pengunjung hanya membayar satu kali. Dan untuk memasuki objek wisata lain, tidak perlu membayar tiket masuk lagi. 
Pertama masuk lokasi wisata pantai Baron pengunjung akan melihat sebuah pasar tradiosional yang menjajakan produk khas pantai Baron, seperti topi, kaos, kerajinan kerang, dan lain-lain. Ada juga makanan olahan khas laut seperti udang, ikan, cumi-cumi, dan masih banyak lagi. Selepas pengunjung menikmati pasar tradisional pantai Baron, barulah pengunjung dapat melihat hamparan pasir dengan lautnya yang indah. 


Foto di atas diambil bulan Februari 2015. Kondisi pantai sedang tidak banyak pengunjung dan cuaca mendung.
Mari berkunjung ke Gunungkidul dan nikmati wisata alamnya.

Kamis, 11 Desember 2014

Dilema Ibu Pekerja

Terakhir posting bulan Agustus 2014, wow lama banget yah. Nggak apa-apa lah ya..jarang-jarang juga yang penting ada update. Mudah-mudahnya kedepannya bisa update blog daily. Amin..
Kali ini saya akan membahas mengenai "Dilema Ibu Pekerja". Perlu digaris bawahi bahwa di dalam tulisan ini tidak akan membahas pilihan mana yang paling benar antara "Ibu" dan "Pekerja". Justru saya berharap tulisan ini mampu memotifasi ibu-ibu yang memutuskan untuk full di rumah mengasuh anak dan untuk ibu-ibu yang memutuskan untuk tetap berpenghasilan.
Tulisan ini diilhami oleh pengalaman pribadi saya sebagai ibu dan seorang karyawan. Ok langsung saja ya..
Anak mempunyai masa emas pertumbuhan. Dimana sebaiknya pada usia itu ibulah yang mendamping perkembangannya. Tapi banyak anak-anak usia balita yang di titipkan untuk di asuh orang lain. Baik oleh baby sister, asisten rumah tangga atau keluarga karena si ibu harus bekerja. Alasan bekerja pun beragam. 
  1. Karir di perusahaan tempatnya bekerja sedang bagus
  2. Sayang dengan gaji yang sudah besar
  3. Adanya tanggungan (ex. cicilan rumah) yang harus di bayar dan kalau mengandalkan gaji suami menurut matematika manusia kurang.
  4. Single parent
  5. Dan lain-lain
 Alasan untuk tetap bekerja pun tidak melulu datangnya dari keegoisan ibu yang tidak mau meninggalkan pekerjaannya karena masalah karir. Seperti pada alasan nomor 3 dan 4 di atas. Dimana si ibu ini sebenarnya ingin mengurus anak di rumah tetapi karena ada faktor lain yang mengharuskannya untuk tetap berkarir. Lalu dengan ibu yang memutuskan untuk tetap berkarir karena alasan lain, bisa jadi karena dia ingin menjamin masa depan anaknya lebih baik. Menjamin kesejahteraan dan pendidikannya. 
Apapun alasan ibu bekerja itu adalah untuk keluarga dan anak, saya pikir tidak ada masalah. Jangan sampai memutuskan untuk tetap bekerja karena alasan seperti merasa bosan di rumah dengan lingkup yang itu-itu saja, atau tidak bisa lagi hang out bersama teman-teman. Perlu diperhatikan juga dengan siapa anak kita dititipkan. Kalau yang mengasuh adalah neneknya tentu itu lebih baik. Lain dengan jika anak dititipkan kepada orang yang tidak kita kenal sebelumnya, seperti asisten rumah tangga atau baby sister. Sebagai ibu harus jeli dalam memilih pengasuh anak. Jangan sampai anak-anak ini justru menjadi korban ketidakprofesionalan  mereka. 
Kemudian yang berikutnya adalah ibu yang meninggalkan karirnya demi mengasuh anak-anaknya. Banyak sekali ibu yang menempuh langkah ini dan salut buat mereka (agak iri dengan mereka :( hiks). Sekali lagi kondisi setiap keluarga berbeda-beda. Jika memang pemasukan dari suami cukup untuk memenuhi kebutuhan ya tidak ada salahnya jika istri/ibu memutuskan untuk fokus terhadap anak. Saya mengikuti sebuah forum yang isinya ibu-ibu semua. Dari ibu-ibu muda sampai yang sudah punya cucu juga ada. Mayoritas dari penghuni forum ini adalah ibu-ibu yang memutuskan untuk tidak berkarir, sehingga dengan adanya forum ini mereka saling bisa berbagi dan menguatkan satu sama lain. Kadang sebagai wanita karir yang tiba-tiba harus berada di rumah ada rasa bosan, merasa tidak berguna, sayang dengan ijasah dan kuliahnya yang bertahun-tahun itu. 
Pernah suatu kali saya memposting kegalauan saya  mengenai masalah ini. Banyak sekali masukan yang saya dapatkan. Berbagai macam latar belakang ibu-ibu yang memberikan masukan. Bahkan ada seorang Dokter yang rela melepas jas putihnya demi mengasuh anaknya yang memang memerlukan perawatan khusus. Yang lain seorang PNS di kota bandung yang siap berhenti pertengahan 2015 ini. Dosen dengan pendidikan S2 yang dengan ikhlas melepas karirnya di universitas. Dan banyak ibu-ibu dengan karir yang cemerlang tetapi lebih memilih keluarga. Inspiratif sekali.
"Meskipun kita berhenti bekerja, Allah tidak akan mengurangi rejeki keluarga kita." 
Kalimat inilah yang memotifasi ibu-ibu segera berhenti bekerja. Tetapi tidak semua orang dengan mudah menerima kalimat ini, termasuk saya. 
Lalu berikutnya ada ibu-ibu yang tetap berpenghasilan meski tidak keluar rumah. Ada yang ikut MLM produk kecantikan,  freelance, membuka usaha kecil-kecilan di rumah dan lain-lain. Yang terakhir ini sebenarnya bisa menjadi solusi permasalahan ini. Tetapi tetap kembali kepada individu masing-masing. Dan apapun pilihannya asal itu baik untuk keluarga terutama anak, why not?

Sekian tulisan ini, lebih seperti pendapat dan curhatan sih.. tapi nggak apa-apa lah..
Ingin mencopy percakapan di forum ibu-ibu yang saya ikuti, tapi sudah tertimpa dengan posting yang lain..kalaupun ada menyusul..

Mudah-mudahan Allah senantiasa melimpahkan anugrahnya kepada keluarga kita. Amin..

Jumat, 15 Agustus 2014

Separation Anxiety Disorder (SAD) pada anak

Seperti biasa jam delapan pagi, Fina suda dijemput budenya. Karena saya bekerja, setiap hari dari jam delapan sampai jam empat sore ia berada di rumah budenya yang jaraknya hanya sekitar 200 m dari rumah kami. Walaupun saya bekerja di rumah, tetapi saya belum bisa mengasuh Fina sambil bekerja. Karena di usianya yang baru menginjak 20 bulan, tentunya ia belum mengerti tentang apa yang saya lakukan. Setiap saya berada di depan komputer, ia selalu ingin bersama saya dan ikut memencet keyoard dan mouse. Maka dari itu sementara ini ia di asuh oleh budenya.
Tak seperti biasanya, si kecil menjadi sulit berpisah dengan saya. Ia benar-benar tidak mau dibawa oleh budenya. Entah apa yang terjadi. Sempat berpikir apa mungkin anak ini mendapatkan perlakuan kasar dari budenya? Tapi saya segera menepis pemikiran itu karena saya tahu bahwa budenya sangat penyabar. Dan ketika berada di rumahnya pun Shafina menjadi cengeng, sering menangis menanyakan ayah dan ibunya. Padahal sebelumnya tidak seperti itu. Hal ini berlangsung tiga hari termasuk hari ini.
Penasaran dengan apa yang terjadi pada anak saya. Saya pun mencari informasi di internet dan muncullah istilah Separation Anxiety Disorder (SAD). SAD adalah kondisi dimana anak tidak mau atau sulit berpisah dengan orang tuanya. Keadaan anak yang sulit untuk berpisah dengan Mama atau Papanya itu tidak mungkin dibiarkan begitu saja. Bahkan, mungkin ada beberapa orang tua yang sudah ‘kebal’ dengan tangisan dan teriakan anaknya, dan menganggap bahwa nanti kalau anak sudah lelah, dia akan diam sendiri. Padahal, ada cara untuk mengatasi SAD pada anak, lho. Nah, jika anak Mama mengalami SAD, cobalah beberapa tips di bawah ini.

1.    Di dalam keluarga, setiap anggota keluarga harus menjalankan perannya sendiri. Misalnya, orang tua harus sadar bahwa mereka perlu membimbing anak untuk mandiri. Pengasuhan atau perhatian yang berlebihan seharusnya dikurangi.

2.    Modelling behavior atau meniru pola perilaku. Anak adalah peniru ulung. Jika ia melihat Anda bersikap ramah ketika bertemu orang yang asing, ia tidak akan merasa takut dengan orang yang baru. Bagaimana pun, perilaku Anda menjadi acuan bagi anak.

3.    Introspeksi hubungan dengan pasangan. Mungkin saja, hubungan Anda berdua bermasalah sehingga manifestasinya ke anak. Seharusnya, perhatian Anda bisa dibagi secara rata. Jadi, Anda tidak hanya fokus ke anak saja, tapi juga ke pasangan.

4.    Mulai usia 3 tahun ke atas. Ajarkan anak melakukan kewajiban pribadinya, seperti tidur, mandi, atau makan sendiri. Biarkan si kecil belajar untuk mandiri di rumah.


Menurut psikiater asal AS, Anne Marie Albano, anak dengan SAD umumnya akan menolak sekolah. Ada beberapa solusinya, yakni:

1.    Terapkan teknik flooding (langsung). Caranya adalah dengan menitipkan anak ke orang yang dipercaya. Misalnya, ketika di sekolah, titipkan anak pada gurunya. Jika ia menangis, biarkan guru yang menenangkannya. Proses ini bisa berlangsung selama kurang lebih seminggu sampai anak terbiasa.

2.    Systematic desensitization. Secara bertahap, jauhi si kecil dengan pelan-pelan. Umumnya, proses ini berlangsung selama 2 - 3 bulan. Awalnya, Anda menunggu sambil duduk dekat dengannya. Esoknya duduklah lebih menjauh dari posisi sebelumnya. Terus lakukan sampai Anda benar-benar menghilang.

Sumber : parenting.co.id

Senin, 23 Juni 2014

Si Peniru Ulung

Istilah peniru ulung memang sangat cocok digunakan untuk menyebut kebiasaan anak-anak atau balita yang gemar menirukan perkataan maupun perbuatan orang yang lebih tua darinya. Baik itu orang tua, paman, bibi, kakak, dan yang lainnya. Meskipun belum bisa bicara tetapi balita adalah jagonya dalam merekam pembicaraan maupun tingkah laku orang tuanya. Dan akan di praktekkan persis seperti apa yang kita lakukan dikemudian hari. Untuk itu mengapa kita sebagai orang tua harus memilih kata-kata dan bertindak yang baik. Jangan sampai keteledoran kita dalam memilih kata-kata akan ditiru olehnya.
Anak perempuan biasanya akan mengikuti kebiasaan ibunya berdandan, memakai bedak, lipstrik, dan lain-lain. Seperti juga putriku Shafina. Beberapa hari yang lalu kami mau menghadiri acara tasyakuran sunatan di rumah salah satu keluarga. Seperti biasanya saya memakai kerudung dan sedikit berdandan. Ia seperti tidak mau kalah, meminta saya mengambilkan kerudung segi empat di rak lemari. Kemudian dia pun mulai membuka lipatan kerudung itu dan memakai di kepalanya.Masa ini sebenarnya bisa menjadi saat yang baik untuk mengajarinya hal-hal yang baik. Seperti contohnya mengajarinya buang air kecil di kamar mandi, membuang sampah pada tempatnya dan hal-hal baik lainnya.
Sebaliknya jika kita salah mengajarinya atau tidak sengaja melakukan kesalahan, dia akan tetap mengikutinya. Pernah suatu ketika kami sedang pergi jalan-jalan. Ketika itu si ayah melihat ada kejanggalan di pinggir jalan. Ia pun mengeluarkan kata-kata yang tidak sepantasnya secara reflek. Tanpa menunggu lama si kecil langsung mengikuti perkataan ayahnya itu berulang-ulang, tentunya dengan pengucapan yang belum jelas. Tapi tetap saja ia bermaksud menirukan apa yang di katakan ayahnya. Buru-buru si ayah langsung meralat ucapannya dan si kecil pun mengikutinya. 
Begitulah hebatnya anak-anak kita. Di tubuh kecilnya tersimpan kejutan-kejutan yang mungkin jauh dari pikiran kita. Dan ketika kita sudah mau menjadi orang tua, itu artinya kita harus konsisten terhadap konsekuensinya. Maksudnya adalah ketika kita menjadi orang tua ada beberapa hal yang harus kita tinggalkan atau ada beberapa hal yang harus kita ubah. Contohnya seperti kebiasaan mengucapkan kata-kata kasar sedikit demi sedikit harus diubah, jika kita tidak mau anak-anak kita akan mengikuti kita mengucapkan kata-kata itu. Dimana kata-kata seperti itu belum pantas diucapkan oleh balita, walaupun ketika sudah dewasa pun sebenarnya juga tidak pantas. 
Mari kita jaga anak-anak kita dari hal-hal yang bisa berpengaruh buruk di kehidupannya dan sebagai orang tua terutama itu sudah menjadi tugasnya mendidik anak-anaknya dengan hal-hal yang baik.

Selasa, 17 Juni 2014

Fisioterapi inhalasi aka uap

Dulu sempat bertanya-tanya, ketika ada anak tetangga yang batuk dan orang tuanya bilang bahwa anaknya harus di "uap". Uap? anaknya di asapi?  Istilah yang lebih keren untuk uap adalah fisioterapi inhalasi. Yaitu terapi untuk meringankan batuk dan pilek.

Beberapa waktu yang lalu Shafina batuk dan pilek. Aku bukan termasuk ibu yang suka berkunjung ke rumah sakit. Dimana anak sakit sedikit langsung rumah sakit. Aku berusaha seminimal mungkin agar Fina tidak terlalu banyak mengkonsumsi obat-obatan kimia. Kira-kira satu minggu batuk dan pileknya belum juga membaik. Saya dan suami langsung membawa Shafina ke rumah sakit Hermina Bekasi. Hasil dari konsultasi dokter, Fina harus di inhalasi atau di uap sebanyak 3 kali. 

Selesai membayar obat, kami bawa fina ke bagian fisioterapi. Bagi yang baru pertama kali melakukan terapi ini, kami di wajibkan membeli selang inhalasi harganya cukup terjangkau.

Gambar di atas adalah bentuk selang inhalasi. Kalau baca dari buku pasien obat untuk inhalasi adalah Na Cl dan ventolin. Proses inhalasi penuh melibatkan orang tua. perawat hanya menakar obat, memasang selang dan menghidupkan alat untuk inhalasinya. Selepas itu adalah tugas orang tua untuk membuat anak-anak kita merasa nyaman dengan terapi ini. 

Lima menit pertama, Fina masih duduk dengan manis dan masih berceloteh ini dan itu. Tetapi 5 menit berikutnya dia mulai merasa tidak nyaman dan mungkin juga bosan karena harus duduk dalam waktu 10 menit. Waktu yang cukup lama untuk berdiam diri bagi Fina yang petakilan dan tidak bisa diam. Selama lima menit terakhir itu dia berusaha melepas selang dan menangis sambil sesekali berteriak. Sebagai orang tua, mau tidak mau aku harus tega memegang selang uap dan menempelkan ke hidungnya agar tidak banyak asap yang terbuang.

Setelah inhalasi selama 10 menit, selanjutnya dada dan punggung bayi di oleskan balsam khusus untuk bayi dan anak-anak, sambil di tepuk-tepuk. Alhamdulillah setelah tiga kali inhalasi, batuk dan pileknya mereda.

Mencegah lebih baik dari pada mengobati.  

Menjadi ibu baru dan dilema perubahan bentuk tubuh

Ketika itu tanggal 31 Desember 2012 jam setengah 3 sore putriku lahir. Dan mulai saat itu juga tanggungjawab besar sebagai ibu berada di pundakku. Tugas untuk mendidik dan menjadikannya anak yang berbakti kepada orang tua dan solehah berada padaku. Beruntung aku melahirkan di Jogja dimana orang tuaku tinggal. Setelah melahirkan aku pulang ke rumah orang tua. Karena Fina anak pertama dan tentu aku belum berpengalaman merawat bayi. Kedua orang tuaku sangat bahagia dengan kelahiran cucu pertama mereka, begitu pula dengan bapak dan ibu mertuaku yang juga sangat bahagia dengan lahirnya Fina.

Awal-awal menjadi ibu, aku sering merasa iri kepada ibuku sendiri karena beliau lebih sering menggendong anakku. Disamping karena aku belum pengalaman, juga karena luka operasi caesar yang belum sembuh membatasi gerakanku. Lambat laun aku mulai terbiasa menjadi ibu dan menikmatinya.

Seperti ibu-ibu baru yang kadang merasa tubuhnya tak lagi seindah dulu. Aku pun juga merasakannya. Berat badan naik drastis 25 kg. Berat badan terakhir ketika hamil menginjak angka 81kg. Banyak yang bilang, "hamil aja segitu gimana nanti menyusui?". Perkataan-perkataan yang semakin membuat galau waktu itu. Sedih juga ketika bercermin, bentuk tubuh lebih mirip "pohon beringin". Saat-saat merindukan bentuk tubuh ketika masih kuliah. Baju-baju lama tidak bisa di pakai lagi. Al hasil aku harus membeli beberapa baju dengan ukuran yang WOW.

Satu bulan setelah kelahiran Shafina, kami membawanya ke bidan, karena si bayi panas. Tepat pada waktu aqiqah dan "selapanan" di budaya orang Jawa. Syukur alhamdulillah Fina tidak apa-apa, dan memang budaya Jawa ada yang mempercayai bahwa hal itu wajar saja karena berhubungan dengan hari lahirnya. Bahkan tradisi orang Jawa masih ada yang membuatkan tumpeng sederhana ketika jatuh pada hari jawa kelahiran anak dengan tujuan agar si anak tidak rewel. Hari Jawa maksudnya seperti Senin Wage, Selasa pon, dan lain-lain.

Ketika di Bidan aku menimbang berat badan dan wala...bulan pertama pasca melahirkan langsung turun 10kg. Betapa bangganya ketika itu, bisa menurunkan berat badan 10kg dalam jangka waktu 1 bulan. Aku pikir hal itu wajar saja karena aku menyusui, meski tidak secara langsung. Fina tidak mau menyusu padaku secara langsung karena puting susunya kecil. Akhirnya demi asi eksklusif meski memakai dot, aku harus rela dengan sabar memompa asi dan menyimpannya di dalam kulkas. 

Selain karena menyusui juga karena faktor makanan. Menurut tradisi orang Jawa, setelah mehirkan seorang ibu tidak boleh makan protein hewani. Alasannya nanti air susu akan menjadi amis begitu pula dengan bayinya. Juga akan memperlambat proses penyembuhan jika proses persalinan ada robekan dan harus di jahit. Hal ini tentu saja bertentangan dengan dunia kedokteran. Karena justru protein hewani yang bisa mempercepat proses penyembuhan luka. Waktu itu aku tetap makan ayam, ikan, daging, telur dan lain-lain. Hanya saja, porsi nasi jauh lebih sedikit. Lho kenapa? Bukannya ibu menyusui cepat lapar? Kenapa nasinya justru di kurangi? Memang benar ibu menyusui lebih sering merasa lapar, karena setiap makanan yang kita makan bukan untuk kita sendiri tapi juga untuk bayi kita.

Di Jawa, sayuran hijau itu dipercaya dapat menambah volume asi dan kekentalan asi. Jadi bayi yang meminumnya juga akan merasa lebih kenyang dari pada ketika kita tidak menyantap sayuran hijau. Berlandaskan hal itu, setiap hari menu makanan yang tidak pernah ketinggalan adalah sayuran hijau yang hanya direbus saja, tanpa bumbu sama sekali. Bisa daun bayam, daun singkong, daun pepaya, daun katuk, daun kacang panjang, dan lain-lain. Dari semua jenis dedaunan itu yang paling menghasilkan banyak asi adalah daun kacang panjang dan daun katuk. Sehingga menu makananku waktu itu adalah sedikit nasi, sepiring penuh dedaunan, sayur berkuah dan lauk. O ya, dengan memakan sayuran hijau kita bisa merasa kenyang lebih lama dari pada menyantap nasi. Dan kita semua tahu bahwa sayuran hijau lebih sehat dan kaya serat dan tentu tidak mengandung lemak yang tentu saja bersahabat dengan berat badan kita.

Bulan berikutnya berat badan turun tidak sedrastis bulan sebelumnya, bulan ke 2 hanya turun 5kg. Setelah itu berat badan turun konstan antara 2/3kg setiap bulannya. Hingga akhirnya pada bulan ke 6, berat badan sudah kembali seperti sebelum hamil. Mungkin juga karena mulai bulan keempat aku merawat bayi Shafina sendiri, karena pas genap usianya 3 bulan kami membawa Fina ke Bekasi.

Begitulah sekilas cerita pengalaman menjadi ibu baru dan juga di lema bentuk tubuh yang lebih mirip dengan pohon beringin ketika itu. Sekarang Fina sudah 1.5 tahun dan alhamdulillah baju-baju lama bisa di pakai lagi. Hanya saja memang bentuk tubuh ibu-ibu tidak lagi sama seperti waktu masih gadis dulu. Tapi itulah kodratnya perempuan dan nikmatnya menjadi ibu. Jangan terlalu mengkhawatirkan bentuk tubuh, selama suami kita bisa menerima kita apa adanya.

Kamis, 10 Oktober 2013

Sharing Pengalaman Kehamilan, Melahirkan dan Menjadi Ibu Baru 2

Alhamdulillah akhirnya bisa posting lagi di blog ini. Setelah sekian lama. Dari Sharing Pengalaman Kehamilan, Melahirkan dan Menjadi Ibu Baru 1 ke posting yang kedua ini jaraknya 4 bulan. Hem..benar-benar blogger yang nggak update. Hehehe... Bukannya lebih baik terlambat dari pada tidak sama sekali (Jangan ditiru).
Ok langsung saja, lanjut ke pengalaman kehamilan saya yang pertama. Bukan main bahagianya ketika ada manusia yang hidup di dalam tubuh saya. Untuk trimester 1 (3 bulan pertama), periksa kehamilan dilakukan satu bulan sekali. Menunggu waktu untuk periksa sampai bulan depan itu rasanya lama sekali. Ingin segera bulan depan rasanya dan mengetahui kabar dedek bayi di dalam sana.
Seperti wanita pada umumnya saya juga mengalami ngidam, muntah, mual dan lain-lain. Saya tiba-tiba kepingin makan steak, bakso malang, siomay, dan nasi padang (ada ceritanya di bawah).
Periksa kedua pas menginjak kehamilan 9 minggu, Kebetulan aku periksa di bidan yang mempunyai reputasi bagus. Di ruang periksa, suster memakaikan gel di perut saya bagian bawah. Mau di apain nih, kata saya dalam hati. Tak lama kemudian bidan menempelkan alat yang akhirnya saya tahu itu namanya fetal dopler (alat untuk mendengarkan detak jantung janin). Ditekan-tekan dan yang terdengar hanya bunyi kresek kresek, saya tidak tahu maksudnya apa, dan yang dimaksud dengan detak jantung itu bunyi yang mana. Setelah agak lama memutar-mutar alat itu di atas perut saya, bidan pun berkata "Janinnya masih  terlalu di bawah, mungkin karena masih 9 minggu jadi belum terdengar detak jantungnya.". Mendengar pernyataan bidan tersebut saya tidak banyak komentar tapi sesampainya di rumah, muncullah berbagai pertanyaan, apakah dia baik-baik saja di dalam? adakah sesuatu yang membahayakan?
Untuk mengusir penasaran, saya pun mencari informasi di mbah google mengenai berapa minggu detak jantung janin bisa di dengar. Banyak referensi mengatakan bahwa usia 9 minggu bahkan 6 minggu dengan USG bisa di dengar detak jantung janin. Banyak juga calon ibu yang memposting pengalaman hamil dan  mengalami janin tidak berkembang, gejalanya yaitu dengan tidak adanya detak jantung janin. Saya mulai galau membaca banyak artikel ataupun thread  kesehatan yang rata-rata menyatakan seperti itu. Lalu saya berpikir, "itu kan kalau USG kalau pake fetal dopler mungkin beda, secara tingkat kecanggihan kedua alat itu juga berbeda." Menunggu sebulan itu sangat lama untuk segera periksa berikutnya dan mendengar detak jantung janin. Bahkan saya sempat merengek kepada suami untuk USG. Tapi suami enggan mengantar saya USG, dia hanya berkata "berpikir positif aja, dan percaya sama Allah". Saya pun menjalani hari-hari menuju periksa selanjutnya dengan penuh harap-harap cemas.
Akhirnya jadwal periksa bulan selanjutnya telah tiba, senang sekali rasanya akan segera mengetahui keadaan malaikat kecil kami di dalam sana. Dan alhamdulillah pemeriksaan ke tiga tepat usia kandungan 13 minggu, kami dapat mendengar detak jantung janin saya (bunyinya sama sekali tidak mirip dengan detak jantung kalau menurut saya, tetapi lebih mirip bunyi lonceng). Kami sangat bahagia karenanya.
Saya menjalani hari-hari berikutnya dengan penuh suka cita, sampai pada suatu hari perut saya mulas dan sakit. Saya sangat khawatir. Suami langsung saya telepon, dan dia pun dengan cepat sampai di rumah. Kami pun menuju ke bidan tempat periksa biasanya. Tidak seperti biasa tempat praktek bidan itu penuh dengan ibu-ibu hamil dengan segala ukuran dan bentuk. hehehe... Ternyata hari itu bertepatan dengan jadwal USG dimana bidan mendatangkan dokter dari rumah sakit setiap satu bulan sekali. Saya pun enggan periksa disitu karena terlihat semua orang sedang sibuk dengan urusan USG dan ada yang sedang melahirkan pula. Akhirnya saya dan suami memutuskan untuk menunggu hingga selesai, suami saya mengajak saya makan terlebih dulu  . Seperti biasa dia bertanya "mau makan apa?" dan entah kenapa hari itu saya sangat kepingin makan nasi padang. Ironisnya setelah makan nasi padang, sakit perut saya hilang dan langsung sehat kembali. Periksa ke bidan pun tidak ada masalah, janin juga sehat dilihat dari detak jantungnya. 
Titik rawan sampai empat bulan pun telah saya lalui, janin juga berkembang dengan baik. Begitu pula dengan trimester kedua yang saya habiskan di kampung halaman saya di jogja. 
Masalah justru timbul pada trimester terakhir (7, 8, 9 bulan). Pada waktu itu kepala janin tidak pernah benar-benar berada di bawah. selalu berubah posisi setiap minggu. Mislanya minggu pertama bulan oktober kepala janin di bawah, minggu depan sudah berubah lagi di atas, dan begitu seterusnya sampai pada saatnya melahirkan. Padahal terapi sujud sudah saya lakukan setiap sehabis sholat. Jalan-jalan pagi dan aktifitas lain di rumah. Bahkan ada dokter kandungan yang mengharuskan saya memakai stagen (sabuk panjang) ketika kepala janin sudah di bawah agar tidak berubah posisi lagi. Tapi tetap saja tidak berhasil.
Pada minggu ke 38 saya kembali USG dan posisi sudah kepala, tetapi belum masuk panggul. Bidan menyarankan untuk terapi jongkok berdiri. Terapi ini rasanya cukup menyiksa. Jongkok berdiri tanpa beban saja rasanya sangat capek, apalagi ditambah beban di perut. 
Prediksi kelahiran tanggal 28 Desember 2012, di hari itu tidak ada tanda-tanda akan melahirkan. Saya hanya berusaha memantau gerakan janin. Jika dia masih bergerak itu tandanya baik-baik saja, pikiran saya. Akhirnya tanggal 29 Desember tepat pukul 00.00 keluar darah melalui jalan lahir, mengalir melewati kaki. Saya pun membangunkan orangtua saya (Suami dalam perjalanan Jakarta - Joga). Saya diantar oleh orangtua ke bidan. pemeriksaan dalam pun dilakukan dan katanya memang saya akan melahirkan tetapi masih lama, ditunggu dirumah saja. Kami pun kembali ke rumah, saya juga merasakan perut saya sakit sekali, sampai saya tidak bisa tidur. 
Akhirnya pagi datang, rasa sakit pun hilang. Ya, memang seperti itu kejadiannya, saya hanya meraskan sakit ketika malam. Kalau siang, saya tidak merasakan apa-apa. Begitu terus sampai akhirnya saya memutuskan untuk operasi sesar pada tanggal 31 Desember 2012. 
Kenapa Sesar?
Karena sampai tanggal 31 tidak juga ada pembukaan.
Kenapa tidak memakai prosedur induksi ?
Saya tidak mau. Karena jika induksi gagal ujung-ujungnya juga sesar. Dan saya tidak tahu rumah sakit dimana saya di rawat itu masih menggunakan prosedur vacuum/forceb tidak. Terus terang saya tidak mau memakai kedua cara tersebut. Banyak bukti bahwa vacuum yang tidak lancar berakibat fatal terhadap perkembangan anak nantinya.
Dan pada jam 02.40 lahirlah putri kami tercinta Shafina Sriardhani yang pada hari ini berumur 9 bulan 11 hari.
O ya,,,Selama hamil saya mudah sekali lapar. Karena itulah selama kehamilan berat badan saya naik 25kg awal hamil 56kg sampai 81kg pada saat terakhir sebelum melahirkan. Perlu diketahui kenaikan berat badan ibu hamil yang ideal maksimal 20kg, saya termasuk over.
Hah...itulah sedikit cerita saya ketika mengandung Fina (nama panggilan ana kami) penuh suka dan duka, tapi sukanya sangat banyak lho..hehe..
Kehamilan adalah sesuatu yang sangat di harapkan oleh pasangan yang menikah. Lengkap pula julukan "wanita" ketika seorang wanita telah mengandung dan melahirkan. Berusaha dan berdoa, setelah satu tahun dari rencana tapi belum juga ada hasil, sebaiknya melakukan konsultasi dengan dokter atau tindakan herbal lainnya. Tujuannya agar kita tahu masalah dan penyebabnya apa, sehingga tidak menjadi fatal. Penghambat bisa dari kedua pihak, istri dan suami. Bukan kekurangan istri saja jika anak yang diharapkan tak kunjung datang.
Selama hamil rajinlan mengonsumsi vitamin penambah darah minimal 90 butir, makan makanan bergizi, minum susu sangat dianjurkan, dan periksalah ke bidan atau rumah sakit terdekat. Jika kita sebagai ibu hamil merasakan ada yang salah dengan kehamilan kita, segera bicarakan dengan suami dan jika perlu langsung periksa untuk mengetahui masalahnya.
Usahakan untuk tidak stress, karena stress akan berdampak buruk pada janin. 
Hindari mengonsumsi obat. Sekalipun dokter mengatakan obat itu aman untuk ibu hamil, sebaiknya jangan dikonsumsi selama penyakit yang kita derita bisa di obati dengan cara alami.
Oke,,,mudah-mudahan bermanfaat ya cerita dari ini..
Salam...